Homestay, Asiknya Tinggal Bersama Orang Asing

Pernahkah terbayang oleh Anda bagaimana rasanya tinggal bersama orang asing dari negara lain? Untuk Anda yang penasaran, Anda bisa mencoba mengikuti homestay dengan tinggal bersama keluarga dari negara lain. Homestay memang belum menjadi tren di Indonesia. Tentu saja, karena aktivitas seperti ini jarang dilakukan masyarakat Indonesia. Hanya orang berduit saja yang mampu melakukannya, biasanya dengan mengirimkan anaknya ke luar negeri untuk tinggal bersama teman-teman dari berbagai negara atau dengan keluarga angkat. Atau mungkin Anda mengenal istilah homestay dari salah satu program stasiun televisi dengan judul yang sama.

Salah satu negara yang gandrung dengan homestay hingga sekarang adalah Jepang. Saking menjamurnya, saya sampai bisa mengikuti tiga kali homestay selama setahun pertukaran pelajar di Jepang hingga Agustus 2012. Semua homestay yang saya alami termasuk tipe homestay menginap di rumah orang tua angkat selama semalam atau beberapa hari.

Setelah saya telusuri, motif orang-orang Jepang tersebut untuk menjadi keluarga angkat yang menerima orang asing untuk homestay ternyata bervariasi. Ada yang ingin mempelajari bahasa asing, ada yang ingin mempromosikan pariwisata daerahnya, hingga sekadar mencari teman.

Salah satu klub warga Jepang yang terkenal dengan program homestay adalah klub Hippo. Klub inilah yang pertama kali mempertemukan saya dengan keluarga angkat pertama saya di Jepang, yaitu keluarga Ohmiya. Meski program homestay yang diselenggarakan hanya dua hari satu malam, tetapi kami menjadi sahabat hingga sekarang. Memulai jalinan persahabatan dengan orang Jepang memang terkadang sulit, apalagi bagi orang asing. Dengan homestay inilah kita dapat saling mempelajari kebudayaan masing-masing dan kita pun bisa meniru kebiasaan-kebiasaan baik mereka.

Ski bersama keluarga Ohmiya

Kegiatan klub Hippo tersebut sangat menarik. Mereka biasa mengadakan pertemuan 1-2 kali dalam sebulan untuk saling berbagi pengalaman homestay, kegiatan pertukaran budaya, kegiatan relawan, dan sebagainya. Uniknya, pertemuan ini diawali dengan games kecil sambil menyanyikan lagu populer dari banyak negara, sampai saya terkejut ketika mereka menyanyikan lagu nona manis dari Maluku. Salah satu anggota bertutur pada saya bahwa mereka ingin mempelajari banyak bahasa layaknya bayi yang baru belajar bicara, sehingga mereka dapat berbicara banyak bahasa walau tidak menguasai banyak kosakata dan aturan bahasanya (grammar). Hebatnya lagi, anak-anak yang terhimpun dalam klub ini dapat mengikuti homestay atau pertukaran pelajar ke negara lain selama seminggu bahkan setahun lamanya dengan syarat usia lebih dari 10 tahun.

Orang-orang Jepang yang mengikuti klub semacam klub Hippo inilah yang menurut saya out of the box dan berbeda dari kebanyakan orang Jepang yang pemalu, terutama dalam berinteraksi dengan orang asing. Mereka menjadi terbuka dengan orang lain, tidak malu jika salah ucap saat belajar bahasa asing, serta berpengetahuan luas mengenai kebudayaan negara lain. Anak-anak dalam klub Hippo yang diperkenalkan dengan dunia luar seperti itu menurut saya akan berhasil dalam kehidupan sosialnya.

Untuk ke depannya, saya berharap agar kegiatan homestay bisa populer di kalangan masayarakat Indonesia dan tidak hanya orang-orang kaya yang dapat menikmatinya. Jika aktivitas seperti itu dapat menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah Indonesia, bukan mustahil anak-anak Indonesia dapat lebih berani berbahasa asing dan berinteraksi dengan teman dari berbagai negara, bahkan memenangkan persaingan global.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s