Doanya Guru Serabutan

Sudah satu semester ini saya menjadi guru privat serabutan, mengajar siswa SMP-SMA yang butuh teman untuk sekadar mengerjakan PR, belajar untuk ujian, atau malah belajar untuk pelajaran keesokan harinya. Saya mengajar subjek yang menjadi “favorit”, yaitu matematika & IPA (kimia, fisika, biologi). Kadang-kadang saya juga mengajar bahasa Inggris. Pengalaman mengajar sungguh membuat saya melihat secara tak langsung kekurangan – kalau tidak mau dibilang kebobrokan – pendidikan negeri ini.

Layaknya khalayak ramai, kelima murid yang pernah saya ajar menganggap pelajaran matematika dan IPA adalah momok yang menakutkan. Ditambah lagi mindset dari nenek moyang kita yang menganggap anak yang pintar itu adalah anak yang pintar (hanya) matematika dan IPA, lengkap sudahlah penderitaan mereka. Padahal kalau mereka tahu kalau mindset itu sudah patah oleh kenyataan bahwa Indonesia bukan negara teknologi macam negara maju lainnya yang menjunjung tinggi sains dan teknologi, pastilah mereka sudah membuang jauh buku-buku sainsnya. Tapi tentu bukan itu yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak mengetahui betapa serunya sains dan arti penting dari perkembangan sains, kemudian membangun tanah air hingga menjadi sekaliber Jepang misalnya. Tapi di lain sisi, jika bakat mereka bukan di bidang sains, hargailah mereka dan fokuskan untuk mengembangkan bakatnya di bidang tersebut, bukannya malah memberi les/kursus di bidang yang bukan bakat mereka seperti yang dialami 4 dari 5 siswa saya. Ya, 4 anak itu diberi les bukan karena sains adalah bakat mereka, tapi karena nilai pelajaran sainsnya runtuh.

Meski normanya saya membantu mendongkrak nilai sains mereka, tapi itu bukanlah tujuan saya. Misi saya adalah menyentil mereka bahwa matematika dan sains itu penting dalam hidup. Lain kata, setidaknya mereka bisa tahu kalau ada sale diskon 25% berarti mereka harus membayar berapa. Itu pelajaran matematika juga, bukan?

Apa mau dikata, matematika adalah pelajaran yang sangat abstrak. Karena itulah nenek moyang kita yang tidak kreatif mengajari kita sistem hapalan. Pokoknya telan saja itu 1 + 1 = 2, 2 x 4 = 8, dst. Gegara itu saya tidak bisa menyalahkan murid kelas 1 SMA akibat dia lupa 12 dibagi 3 itu berapa. Mengingat prinsip ‘manusia itu tempatnya lupa’, maka jangan memerintahkan manusia untuk menghapal, tapi berilah mereka info maknanya dulu. Pelan-pelan saya beri murid itu petunjuk makna 12 dibagi 3. Saya tanya dia, kalau dia punya 3 keponakan dan dia punya 12 permen, dia harus memberi keponakannya masing-masing berapa permen supaya adil? Barulah kemudian dia bisa menjawab kalau 12 : 3 = 4. Ada lagi anak lain (2 SMP) yang lambat sekali memecahkan masalah 5y = 10.000, 15y = ??? Saya beri dia pertanyaan gambaran, kalau dia beli 5 kue harganya 10.000, jadi kalau dia beli 15 kue, dia harus bayar berapa? Dengan cepat dan percaya diri dia menjawab, “30.000 dong, Kak!”. Nah, kalau soal uang saja, cepat sekali dia menjawab. Dari hal-hal tersebut, walau saya bukan ahli pendidikan, tetapi saya yakinkan bahwa anak-anak harus dibimbing dari prinsip bahwa matematika adalah salah satu alat yang digunakan untuk memecahkan persoalan kehidupan sehari-hari. Telah terbukti di banyak negara Eropa bahwa problem-based learning sangat efektif untuk memaknai matematika. Maka jangan tanya 5 dikali 4 sama dengan berapa dalam ujian, tapi tanyalah dalam soal masalah cerita, misalnya dengan pertanyaan “jika kamu menghabiskan 5 roti dalam sehari, maka dalam 4 hari kamu sudah menghabiskan berapa roti?”

Ajarilah makna 1 + 1 lebih dulu (sumber gambar : http://merivale.ultranet.school.nz/ClassSpace/217/

Kasus lucu lain, ada murid yang diberi PR untuk menjawab hasil eksperimen tanpa bereksperimen dan menjelaskan mengapa fenomena eksperimen itu terjadi. Padahal asyiknya sains ya di eksperimen itu, yang idealnya melihat fenomena yang terjadi kemudian muncul penjelasan teoritis kenapa hal itu terjadi. Karena di rumah tidak ada alat & bahan eksperimen, akhirnya saya gambar ilustrasi eksperimen di kertas dan menjelaskan  teorinya. Menurut hemat saya, sepertinya sekarang siswa SMP-SMA lebih jarang melakukan eksperimen. Saya bersyukur zaman saya SMP-SMA dulu pernah beberapa kali bereksperimen dan di TV juga ada acara sains anak yang saya sukai seperti Bill Nye the Science Guy. Nah, apalagi sekarang ada internet, saya merekomendasikan agar siswa SMP-SMA belajar juga dari video animasi sains di Youtube atau lewat web Khan Academy (kuliah sains lengkap dalam bahasa Inggris, di https://www.khanacademy.org/).

Mendidik anak asyiknya sains (sumber gambar : http://www.sciencestoreforthestars.com/janice-vancleave-teaching-the-fun-of-science-to-young-learners.aspx)

Akhir kata, tak habisnya saya katakan bahwa sains itu menyenangkan, jika kita memegang kunci bagaimana kita mengemasnya. Banyak harapan saya untuk Indonesia agar sains bisa dihargai dalam perspektif yang tepat, bukan seperti dalam mindset kuno yang saya sebutkan sebelumnya. Tetapi bagaimana orang-orang yang pandai dalam hal sains (alias scientist) bisa disokong dan dihargai oleh negara agar menghasilkan kontribusi maksimal untuk tanah air. Juga harapan membaiknya sistem pendidikan di Indonesia, untuk menjunjung tinggi hak anak untuk dihargai dan dikembangkan sesuai potensinya, bukan dalam hal sains saja.

One thought on “Doanya Guru Serabutan

  1. Wuih bu guru serabutan tampilan blognya baruuu, bagus ! Iya yg susah adalah kita belajar teorinya lebih dahulu baru eksperimen Ta, kebanyakan kyk gitu😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s