Holiday Program, Waktunya Main sama Anak-anak!

Hihihihiiii…cengar-cengir sendiri nih baca judul postingannya. Kesannya aku nih ibu-ibu banget ya,  nyebutnya “anak-anak” sih soalnya. Padahal maksudnya anak-anak murid. Anyway, 3 minggu lalu aku jadi partner seorang guru holiday program kelas 2-3, Miss Jeny namanya. Kami bekerjasama selama 2 minggu menjadi homeroom teachers, nemenin anak2 field trip, bikin science & social studies projects, art, music, sport, etc. Semuanya dijabanin demi liburan anak-anak jadi produktif dengan menyenangkan tentunya. Program ini gak cuma buat anak-anak sekolah kami, tapi terbuka juga untuk anak-anak sekolah lain.

Anak-anaknya ajaib2 banget lah, macam-macam sifat & karakternya. Ada yang talkative (verbal ability nya lebih), ada yang malu-malu kucing, ada yang tomboy, ada yang baik-baik aja, bahkan ada yang special need. Yang paling bikin berkesan tuh yang terakhir disebut. Namanya Satria, dia menderita Asperger Syndrom. Ciri-cirinya dia kurang social & interaction abilities, hiperaktif, punya dunia sendiri, punya habit atau perilaku yang berulang-ulang, dan sering tantrum (mengamuk). Sekilas mirip autisma, tapi perkembangan wicara dan intelektualnya lebih tinggi. Wuah, kami berdua pusing menghadapinya. Waktu kami lagi kumpul di meeting center di classroom, dia muter-muter di kelas dan ga mau diam. Alhasil aku ikuti dia kemana pun, memintanya untuk ikut duduk bersama kami di meeting center. Susah banget, apalagi dia lagi day dreaming atau berimajinasi. Anak ini suka banget sama Toy Story dan bahasa Inggrisnya juga OK banget. Tiba2 dia mengoceh,”I will be an evil boy today. I will turn my dad to be an evil too and have him as my assisstant.” Astaghfirullah, I was shocked as I was thinking that I had to fix that immediately! I asked him,”What are the consequences if you’re an evil?”. He replied,”I don’t know. But it would be fun to live as a devil. Ahahaha”, He smirked. I told him,”if you’re an evil, you would have no friends, and I would be disappointed to have you as my student. I know you can be a good boy. Could you show me how to be a good boy?” Then suddenly he acted cute! He crossed his arms and smiled as if he’s a model of kids’ magazine! Ahaha, I found one strategy to turn down his wish to be an evil!

Sedikit demi sedikit dari hari-hari pertama terjun langsung ke “jungle”nya anak2, Alhamdulillah udah mulai menikmati jadi guru, apalagi kalau berhasil membuat anak-anak menjadi lebih baik dalam hal manner dan mindset nya (karena kita perlu memperbaiki apa yang  sudah salah atau keliru di lingkungan masyarakat).

Pernah nih, ada anak kelas 2 SD yang nanya, “miss, polisi itu jahat atau baik, sih?”

Ku tanya balik si anak, “menurut kamu, jahat atau baik?”

“Mmm, jahat!”

“Lho, kenapa jahat?”

“kan dia nangkepin orang.”

“Siapa yang ditangkapin?”

“Orang yang melanggar, yang mencuri, gitu-gitu ya, miss?”

“Iya…nah, orang yang melanggar aturan dan mencuri itu orang baik atau jahat?”

“jahat, miss!”

“jadi, polisi itu nangkapin yang jahat atau yang baik?”

“yang jahat, miss.”

?jadi, polisi yang nangkapin orang jahat itu baik atau jahat?”

“Eh, baik dong miss?”

“menurut kamu?”

“ehehe iya miss, polisi baik.”

Aha, berbelit-belit banget ya jawab pertanyaan anak, “polisi itu jahat atau baik?”. I just don’t want to give them the fish by directly saying that policemen are kind. Just give them the bait to find the reasons, deduce, then conclude themselves. Satu lagi, ini penting untuk memperbaiki mindset yang menjamur di masyarakat kita bahwa polisi itu banyak misbehavior nya, meski pun itu rahasia umum juga kalau korupsi juga ada di tubuh kepolisian. Apalagi kalau anak itu ada kemauan untuk jadi polisi, setidaknya kita sudah menanamkan bahwa dia wajib menjadi polisi yang baik😉

Ngomong-ngomong untuk holiday program nya sendiri, kami sempat berkunjung ke PP IPTEK Taman Mini untuk mengeksplorasi sains dan batalyon kavaleri untuk mempelajari bahwa para ABRI itu bertugas untuk melindungi NKRI (sekalian kami diajak berkeliling naik tank), ditambah lagi di hari terakhir kami ber-outbound ria di Ciawi (main di sawah, memandikan kerbau…kocak banget ada anak yang senengnya minta ampun dan ada aja yang nangis karena takut kotor). Oia, anak-anak juga melakukan pertunjukan di depan orang tua mereka sehari sebelum berakhirnya program ini. Mereka menari modern dance (hip hop) dan ada musical performance juga. Ya ampun, mereka lucu-lucu banget, terutama anak kelas 1. Aku excited banget lihat mereka nyanyi Do-Re-Mi. Anak-anakku di kelas 2-3 juga main angklung dan nyanyi “Que Sera-sera”, jadi nostalgia main angklung di Jepang. Kocaknya, ada yang kerjanya melambaikan tangan aja minta difoto orang tuanya. Hihihi, anak-anak sekarang pada narsis rupanya. Pas orang tua bersorak riuh rendah menonton performance anak-anak, ada salah seorang anak kelas 2 yang tanya ke saya, “Miss, kok penontonnya ngetawain kita sih, miss?”. Karena aku melihat dia sepertinya kurang percaya diri jadi saya coba encourange dia, “mereka bukan ketawa, itu namanya bersorak, artinya mereka senang sama penampilan kalian.”

Mantaplah, 2 minggu itu kami ber senang ria, dan agak sedih juga karena beberapa dari anak-anak itu bukan lah siswa sekolah kami, padahal baru mulai terasa dekat sama anak-anaknya…

Nah, minggu depan sudah mulai tahun ajaran baru dan saatnya pula jadi the real teacher. Saya akan mengajar kelas 4-5 SD tahun ini. Do’akan saya ya!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s