Membimbing Anak Menghadapi Abad Distraction

Cerita ini berawal dari pengamatanku terhadap 23 murid di kelas dan kesulitan mendapat atensi mereka , baik saat memberi instruksi maupun fokus mereka terhadap pekerjaan atau proyek yang sedang mereka kerjakan. Contohnya saat mereka harus mengerjakan soal-soal latihan secara individu atau membuat poster secara berkelompok, focus time span mereka sangat pendek. Belum juga 5 menit bekerja, sebagian besar dari mereka (terutama anak laki-laki) beralih fokus ke hal lain, misalnya bercanda dengan temannya, melamun, dan sebagainya. Padahal “teori”nya, focus time span anak = usia + 2 menit, sehingga focus time span murid-murid saya yang berusia 9-10 tahun seharusnya paling tidak 11-12 menit.

Saya masih berusaha mendapatkan atensi mereka dengan cara belajar yang menyenangkan, misalnya dengan game atau misi yang harus mereka pecahkan. Tetapi yang paling mudah dari metode-metode yang pernah saya terapkan, ternyata metode belajar dari video lah yang mendapat perhatian mereka dengan waktu lebih panjang. Wah, saya pikir ini sih memang anak-anak sekarang sudah di zamannya audio visual yang bergerak ya, akibat seringnya main computer game dan menonton tv.

Jadi focus questionnya adalah:

Apakah benar mereka menjadi anak-anak yang kurang dapat mengatur fokusnya karena terlalu banyak bermain game dan menonton tv?

Bisa jadi! Bisa Jadi! (Aduh, macam kuis eat bulaga nih, intermezzo sedikit lah ya). Ada artikel yang menarik dari Pak Rhenald Kasali mengenai hal ini yang bisa kita baca di link berikut : http://m.koran-sindo.com/node/331408.

Di artikel tersebut, Pak Rhenal Kasali menerangkan mengenai akibat “abad distraction” terhadap kemampuan anak untuk fokus dan mengendalikan dirinya. Anak-anak sekarang terlalu banyak menerima informasi atau input dari berbagai sumber yang tidak saling sinkron. Di sekolah mereka diajari untuk menghindari kekerasan, tapi computer game bertema fighting atau gun shooting berkata lain, yaitu memakai kekerasan untuk menang. Contoh lainnya, mereka diajari menyeberang jalan melewati jembatan penyebrangan, tapi kenyataan di luar sana meneriakkan “seberang jalanlah di sembarang tempat”. Anak-anak harus diajari mengelola informasi itu sehingga bisa mengambil kesimpulan hal mana yang harus dilakukan. Yang saya tangkap dari artikel itu, teknologi informasi ternyata mempengaruhi kemampuan anak untuk fokus. Dari pengalaman Pak Rhenald Kasali yang ia sebutkan di artikel, anak-anak yang berasal dari desa dan kurang tersentuh teknologi justru lebih fokus dibandingkan anak-anak yang sudah menjadikan teknologi sebagai hiburan sehari-hari.

Dampak era cyber ini juga dijelaskan DR. Ery Soekresno, Psi., M.Sc. di seminar keluarga di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Depok, 20 Juli 2013 (link: http://mesjidui.ui.ac.id/seminar-keluarga-sesi-1-dr-ery-soekresno-psi-m-sc/).
Beliau memaparkan poin-poin penting dari dampak teknologi terhadap anak dan solusinya terhadap anak sebagai berikut:

  1. jauhkan anak-anak dari gadget. setidaknya berikan gadget setelah kelas 8. karena saat itu ia sudah bisa membedakan yg baik & buruk #seminarkeluarga
  2. Hindarkan dari kecanduan teknologi #seminarkeluarga
  3. dampak kecanduan: tidak makan, kurang tidur, tidak melakukan apa-apa, tidak mandi, tidak mengerjakan tugas sekolah, tidak berinteraksi dengan anggota keluarga
  4. bukan melarang, tapi mempersiapkan anak menjadi generasi yang fokus & terbaik. Hidup di dunia nyata, bukan di dunia virtual #seminarkeluarga
  5. ‘Umar ibn Al Khathab : didiklah anakmu sesuai zamannya #seminarkeluarga

               (apakah ini cara keluarga yang baik dalam menghadapi era cyber?)

(Nah, recommended nih! Acara hiking bareng keluarga bisa jadi cara menhindarkan anak dari efek negatif era cyber. Back to nature!)

Nah, berdasarkan dua artikel itu, saya mencoba menginvestigasi beberapa murid saya untuk mengetahui korelasi bermain game dan fokusnya terhadap pelajaran. Sebagai sampling, saya menginterogasi 2 anak laki-laki yang memiliki gangguan fokus dan 2 anak laki-laki yang memiliki fokus yang baik (anak laki-laki yang memiliki fokus baik di kelasku memang cuma 2, lho!). Begitu juga untuk sampling untuk anak perempuan.

Anak laki-laki yang memiliki gangguan fokus memang ternyata sangat senang bermain game hingga larut malam dan/atau menonton tv. Umumnya mereka lebih senang bermain game yang bertema kekerasan seperti tembak-tembakan. Sedangkan anak laki-laki yang memiliki fokus yang baik memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler seperti badminton dan tari modern, sehingga jarang bermain game. Untuk anak perempuan, saya lihat mereka jarang yang kecanduan game dan memang lebih fokus dibanding anak laki-laki. Mungkin karena anak perempuan memiliki ketertarikan yang berbeda dan alih fokusnya juga berbeda, seperti mereka lebih senang mengobrol dengan temannya atau menonton idola. Hmm, kalau begitu, saya pikir lebih baik anak laki-laki lebih dijaga ketat soal bermain game, dan pastikan kita menghindari game bertema kekerasan.

Solusi lebih lanjut yang dipaparkan DR. Ery Soekresno, Psi., M.Sc. tentang strategi parenting anak di era distraction ini, yaitu:

  1. Bagaimana agar mendidik anak yg sesuai dengan zamannya? #seminarkeluarga
  2. pertama, orang tua meminta anak untuk membuat catatan, berapa lama anak menggunakan internet yang tidak ada kaitannya dengan tugas sekolah #seminarkeluarga
  3. kedua, ajak anak berdialog cerdas, agar kita tahu mengapa mereka suka melakukannya dan mereka tahu,  mengapa kita membatasinya #seminarkeluarga
  4. ketiga, buat jadwal kapan menggunakan internet dan berapa lama, serta LATIH mereka agar memiliki KOMITMEN DIRI #seminarkeluarga
  5. keempat, jangan pernah salahkan anak semata-mata, karena bisa jadi kesulitan yg terjadi selama ini karena kita terlanjur memberikan gadget ke anak tidak pada waktuna
  6. ada juga nih saran untuk para guru :
  7. pertama, didik anak dengan kekuatan visual & praktik, agar anak senang dengan sekolah, belajar, dan sibuk mengerjakan hal bermanfaat
  8. kedua, biasakan kegiatan yang banyak bergerak, karena gerak membuat anak produktif.  Seperti : biasakan menulis tangan… jangan melulu mengetik komputer
  9. ketiga, guru tidak boleh kalah dengan multimedia, manfaatkan multimedia untuk mengajarkan mereka #seminarkeluarga
  10. kenapa anak-anak kecanduan? lonely!!! maka solusinya sediakan waktu khusus ngomong pribadi ke anak setiap harinya #seminarkeluarga
  11. Q1:  Bagaimana mengatasi anak yang sudah kecanduan? Seperti apa cara praktis mengarahkan anak dalam hal digital? #SKI
  12. A1: Anak kecanduan games itu biasanya karena merasa kesepian. Kita pun kadang merasa anak tidak butuh kita saat sudah besar #SKI
  13. Itu pemahaman yang salah. Kita itu adalah tokoh penting dalam hidup anak kita #SKI
  14. Biasakan alokasikan waktu mengobrol dengan anak satu per satu setiap hari minimal 15 menit, mengenai apapun. Utamakan soal perasaan #SKI
  15. A2: Jika latar belakang pola asuh orang tua berbeda, tidak perlu dipaksa memilih salah satu. Manfaatkan perbedaan itu untuk bagi tugas #SKI
  16. Penting untuk mengajarkan konsekuensi tindakan kepada anak agar mereka berpikir sebelum bertindak #SKI
  17. Anak boleh bercita-cita apapun, tapi jangan lupa biasakan mereka untuk mencapai cita-cita itu dengan usaha sendiri #SKI
  18. Latih anak untuk hemat dan mengatur uang dengan memberikan uang saku per dua hari, per tiga hari, per pekan, atau per bulan #SKI

N.B. : Ilmu yang bagus banget dan perlu diterapkan kalau sudah punya anak nanti nih!

Source: http://mesjidui.ui.ac.id/seminar-keluarga-sesi-1-dr-ery-soekresno-psi-m-sc/ (minta izin copas ya…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s