ITB = Institut Teknik Berjodoh?

Ahhh, lagi-lagi topik pernikahan. Topik penggalauan nan panas yang ga ada puasnya untuk dibahas anak-anak muda (setidaknya usia 20an) sampai yang bersangkutan benar-benar menikah. Bahkan setelah menikah pun masih saja dibahas, dengan cara yang biasanya berbeda –> majang-majang foto berdua untuk mengumumkan hubungan sakral dan halal itu lho. Sedaaaapppp.

Jujur saja, aku baru menyadari tren pernikahan ini sekitar tahun 2011, saat aku duduk di semester 6, di mana sudah ada 2 teman perempuan seangkatan yang menikah. Aku cuma berpikir, wah cepat sekali ya mereka menikah, apa karena suami mereka jauh lebih tua dan sudah mapan? Kemudian topik-topik ta’aruf pun mulai berkibar di kalangan anak-anak musholla, menyemarakkan semangat “menikah tanpa pacaran, meraih berkah Allah SWT”. Tsssaaaaahh… Aku ikut ‘terjerumus’ di dalamnya. Bukan hanya itu, profesi baru seperti psikolog dan konsultan pernikahan juga makin populer, hingga seminar-seminar pernikahan makin santer terdengar. Sampai aku berpikir, topik ini baru nge-tren sekarang atau memang karena aku sudah memasuki ‘umur’nya ya?

Saking penasarannya, aku mencoba ikut seminar dan kuliah pranikah selama beberapa minggu di masjid UI. Dari situlah aku sadar, bahwa pernikahan bukan hanya tentang menikah dengan siapa dan acara pernikahannya seperti apa. Tapi jauh lebih dari itu. Paradigma pernikahan sejatinya adalah jalan meraih berkah Allah SWT & Rasul-Nya dalam membangun peradaban. Pernikahan bukanlah sekedar menyatukan dua orang yang saling mencintai agar bisa hidup berdua happily ever after like in a fairytale. Pernikahan memanusiakan kita, mempersiapkan generasi selanjutnya yang lebih baik, dan bersama-sama berjuang dalam dakwah. Menikah bukan hanya bertujuan untuk membangun keluarga saja, tapi juga apa peran keluarga di masyarakat nantinya, minimal menjadi ‘agen muslim’ yang baik. Untuk isi materi seminar dan kuliah pranikah, sepertinya belum bisa aku share di sini karena pengetahuan yang masih perlu ditingkatkan lagi (ciee, mau jadi ahli gitu ya ceritanya?), yang penting paradigma tentang pernikahannya itu lho yang harus diperjuangkan.

Di sini aku mau mengaku saja, bahwa akhirnya masa-masa memasuki jenjang pernikahan itu memang sedang menghampiriku. That’s what I can’t deny, it’s coming on my way. Saudari muslimah yang kuanggap seperti kakak perempuan pernah menasihatiku, bahwa akan datang masa-masa di mana aku akan mulai memiliki rasa sayang terhadap anak-anak dan kesenangan mengurusi hal-hal berbau kerumahtanggaan. Itu adalah fitrah perempuan, dan ia juga berpesan bahwa itulah saatnya aku mempersiapkan diri ke jenjang pernikahan. Bukan mempersiapkan dengan siapa tapi bagaimana caranya. Fokusnya bukan dengan siapa kita berjodoh karena itu sudah Allah SWT persiapkan sesuai ‘level kebaikan’ kita. Ya, fokusnya adalah bagaimana kita terus memperbaiki diri & meningkatkan takwa di hadapan Allah SWT serta mempelajari ilmu-ilmu seputar pernikahan dan pendidikan anak.

https://dianaayunindita.files.wordpress.com/2014/02/635dd-keluarga2bsakinah.jpg

Tentang fitrah perempuan tadi, tak pernah terpikirkan olehku bahwa fitrah itu akan mengubahku menjadi seperti sekarang ini. Aku tak mempunyai ‘riwayat’ menyukai anak-anak sebelumnya, apalagi bermimpi menjalani tugas dinas kerumahtanggaan. Fitrah itu mulai datang saat aku studi di Jepang selama setahun. Di sana aku rutin mengaji saat weekend bersama teman-teman mahasiswi lainnya dan tentunya para istri mahasiswa (yang mayoritas juga sudah menjadi ibu), hingga ada juga yang berperan rangkap sebagai mahasiswi dan ibu. Mungkin itu pertama kalinya aku ‘bergaul luas’ dengan perempuan di atas usiaku untuk berbagi ilmu dan cerita. Seru banget rasanya, masak bareng, cerita-cerita tentang anak dan main sama mereka, saling mengingatkan untuk ibadah, jalan-jalan, macem-macem deh. Aku menjadi saksi ‘perjuangan’ ibu rumah tangga dan ibu merangkap mahasiswi dalam kehidupan mereka yang mandiri dan jauh dari sanak saudara. Sungguh berbeda dengan pergaulanku sebelumnya yang didominasi oleh teman-teman sebaya di kampus. Topik pembicaraan tak jauh-jauh seputar teman perkuliahan, politik pemerintahan, artis, musik yang lagi in, tempat nongkrong, agama, keluarga,& cita-cita. Aku yang dulu, sibuk memikirkan nanti aku kerja apa, mau lanjut kuliah, bagaimana membantu orang tua dan adik-adik. Namun saat fitrah itu datang, aku sadar bahwa aku akan (Inshaa Allah) menjadi seorang istri dan ibu, sehingga sedikit demi sedikit aku berusaha mempersiapkan diri juga.

Lucunya, teman-teman dekatku yang juga jomblo-jomblo bahagia sepertinya mulai merasakan fitrah ini juga. Padahal kami termasuk cewek-cewek yang cuek dengan topik pernikahan (ngomongin sih pernah, tapi tidak segalau teman-teman lainnya), slow aja gitu, wong calon aja belum punya. Kami menikmati hidup bagai anak remaja, nginep di rumahku untuk makan-makan dan nonton bareng. Hehe.

Sampai minggu lalu, sohibku yang mau S2 ke Korea (sebut saja namanya Mawar) ini di telpon mamanya. Mamanya cerita kalau beliau bertemu guru SD si Mawar. Si guru senang dapat kabar Mawar mau kuliah di negeri ginseng, lantas menanyakan berapa umur si Mawar. “Wah, tahun ini Mawar umurnya 24 ya? Waduh, harus nikah dulu itu Bu, atau maksimal umur 26 lah!” Tanggap sang guru setelah mama Mawar menjawab pertanyaannya.

Mama Mawar langsung deh mengingatkan si Mawar bahwa dia harus ingat untuk menikah juga.

“Ya udah, mama pilihin aja calonnya buat Mawar,” tukas Mawar santai.

“Coba minta bantuan Dita aja (aku maksudnya) untuk nyariin calonnya!” Saran si Mama.

“Wuahahahahaha, ya ampun Ma, Dita aja belum punya, gimana minta cariin?” gelak si Mawar.

“Yaaahh, kalau gitu kamu sama Dita jalan-jalan ke ITB gih cari calon!”

“Lah, mama kira ITB tempat apa, kok kalo nyari jodoh malah ke sana?”

Aku terpingkal-pingkal mendengar cerita si Mawar. Mamanya kocak sih, menurutnya jalan-jalan ke ITB terus pulangnya bisa bawa jodoh gitu. Gara-gara cerita ini, aku & Mawar jadi membuat singkatan ITB jadi Institut Teknik Berjodoh. Yah, sebenarnya sih kami maklum lah sama anggapan mamanya Mawar. ITB terkenal lebih banyak laki-laki dengan kualitas tinggi, mungkin ya. Ada-ada saja….

Well, itu lah sekilas tentang perubahan yang terjadi di hidupku sebelum dan sesudah ‘fitrah’ perempuan itu datang. Untuk Mawar (if you read this, you know whom I talk about is you. Yes, you!), selamat berjuang menebar kebaikan di negeri ginseng ya, semoga Allah SWT selalu memberkahi dan melindungimu, always remember that you have family and friends who always be cheering on you. I miss you already!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s