Seleksi Interview & LGD Beasiswa LPDP

Sembari rehat dari penyelesaian data class mapping utk (mantan) sekolah, sambil nulis tentang salah satu hari yang seru dalam hidup asyik juga nih kayaknya. Kali ini tentang pengalaman seleksi interview & Leaderless Group Discussion (LGD) untuk beasiswa LPDP yang berasal dari dana abadi pendidikan Kemenkeu. Ini hanya tentang pengalamannya lho ya, bukan tentang tips2 lulus seleksi beasiswa nya karena sampai sekarang aku sendiri masih menunggu pengumumannya.

Beasiswa LPDP ini sebenarnya sudah tutup untuk periode Mei, dan aku gak sempat membuat 3 essay yang disyaratkan waktu itu. Walhasil siap-siap apply beasiswa DIKTI aja sebagai alternatifnya. Eh, tahu-tahu temannya Ninit, si Amel, yang nginep di rumah nyeletuk, LPDP buka pendaftaran gelombang kedua untuk mahasiswa yang akan kuliah di bln Sept 2014! Langsung deh melipir ke web LPDP, Alhamdulillah deadline tanggal 20 Juni, masih ada waktu 4 hari untuk bikin essay dari waktu itu. Petunjuk dari Allah SWT ternyata turunnya bisa melalui siapa saja (kalo yg ini dari temannya Ninit), dan Allah SWT yang Maha Pembolak-balik hati juga membuat panitia LPDP membuka pendaftaran lagi karena banyaknya pendaftar yang kuliah bulan September banyak yang belum melengkapi syarat pendaftaran seperti aku ini. Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, Laa Haula walaa quwwata illaa billaah..

Beasiswa LPDP Kemenkeu, Bekerjasama dengan Kemendiknas & Kemenag

Alhamdulillah aku lulus seleksi administrasi, dan diundang untuk ikut seleksi interview hari Kamis, 26 Juni 2014. Di pagi yang agak mendung itu aku datang ke Kemenkeu jam 7.20 WIB, diantar adikku tercinta, si Ninit (penting banget nih disebutin, ojekku yang paling setia. Hehe). Sampai di sana ternyata sudah rame, dan aku kenalan dengan beberapa teman, yakni Rindang, Dita, Mbak Eva, Irna, dan Dita (Uhuu nama Dita pasaran sekali ya). Sebelum acara dimulai, kami disuguhi video Pelatihan Kepemimpinan, sebuah program 12 hari yang harus dijalani setelah lulus seleksi interview ini. Isinya OK banget, ada seminar dari orang-orang hebat kayak Bu Marwah Daud Ibrahim & Kak Shofwan Al Banna, kunjungan industri, kunjungan ke markas TNI AU, latihan fisik ala militer, uji keberanian, bikin pertunjukan budaya, pengabdian masyarakat, sampai mendaki gunung. Wah gimana gak bikin ngiler? Bakal jadi pengalaman seru & gak terlupakan tuh seumur hidup tuh! *Sambil berdo’a dalam hati supaya bisa ikutan. Jam 8.10 barulah perkenalan dan briefing dimulai. Aku lumayan tenang utk seleksi ini krn aku tahu aku bersaing dengan diriku sendiri, bukan dengan applicant lain. LPDP akan menerima berapa pun orang yang sesuai kriterianya. Masih ada 400 milyar Rupiah lagi buat dihabiskan untuk LPDP. Kalau menghabiskan uang negara buat pendidikan mah, jangan ragu! *maunya.

Setelah itu jadwal interview & LGD diumumkan. Aku dapat jadwal interview jam 9.40 & LGD jam 16.45 – 17.30. Karena jedanya cukup panjang, jadi ya nunggu di musholla yang ber-AC saja sebagai ‘base camp’ –> pinter bener cari tempat neduh.

1. Interview

Aku baru mulai interview sekitar jam 10.10. Ada 3 reviewer, 1 orang psikolog & 2 orang akademisi (1 org bisa dipastikan sudah bergelar professor). Pertanyaan interview tiap orang beda-beda, tetapi mengacu ke kategori penilaian yang sama. Pertanyaannya banyak yang sebenarnya untuk mengklarifikasi data dan essay yang sudah kita kumpulkan.

Program studi S1 saya (Kimia) yang berbeda dengan S2 saya (Ilmu Pangan) menjadi topik utama yang dibicarakan. Sepertinya kategori penilaiannya adalah “Apakah pelamar beasiswa akan memiliki hambatan dalam studinya?”. Lalu kujelaskan saja kalau kimia (terutama biokimia yang memang bidangku) itu sangat mendukung Ilmu Pangan dan aku juga berusaha mencari tahu tentang ilmu pangan dari majalah tentang pangan. Reviewer bertanya juga soal mata kuliah apa yang kira-kira akan menyulitkanku karena aku tidak punya background di bidang itu. Dengan jujur kujawab, ilmu proses pangan secara fisika. Iya..fisikaaa…iyaaa…hehe. Akhirnya reviewer menyimpulkan kalau aku punya background yang cukup untuk masuk program ilmu pangan. Alhamdulillah…

Gak cuma itu, reviewer bertanya nanti ilmuku mau buat apa, apa yang bisa kulakukan untuk Indonesia dengan ilmuku itu, soal organisasi, pengelolaan waktu, tentang interaksi sosialku, dan sebagainya. Sedikit menyesal karena waktu itu pertanyaan ‘kenapa kamu pilih kuliah di dalam negeri bukan luar negeri’ tidak kujawab dengan ‘karena saya ingin menulis jurnal untuk Indonesia, bukan untuk negara lain. Ini dari pengalaman pahit jurnal S1 saya yang tidak bisa publish karena jadi hak milik prof di Jepang’. Pas sadar gak menjawab dengan itu padahal aku yakin akan dapat poin besar, rasanya mau ngulang lagi interviewnya *youwish. Duh, Gusti Allah, lunakkan hati para reviewer ya untuk merekomendasikanku, mereka sudah kujampi-jampi dengan do’a Robithoh..

2. Leaderless Group Discussion (LGD)

LGD ini isinya tentang diskusi masalah Indonesia, ada 2 psikolog yang akan mengobservasi & menilai kepercayaan diri, etika, pengelolaan emosi, dll. Aku ikut kloter terakhir untuk sesi ini dan baru masuk jam 17.30 lewat. Satu kelompok ada 8 orang. Selain aku, ada Ratih, Andrea, Sena, Abi, Elan, Rangga, & Mas Imam. Sambil nunggu ruangannya selesai dipake, kami ‘kongkalikong’ tentang pembagian tugas siapa yang jadi moderator, time keeper, & notulen. Ini idenya Elan nih, sip lah semua setuju. Aku mendaulat diri jadi moderator, mengatur supaya semua kebagian kesempatan utk berpendapat & mengingatkan teman2 kalau diskusi melebar ke hal yang bukan fokusnya.

Kami dapat topik “Penutupan Dolly”. Waw, topik yang hot banget ya. Hehe. Diskusi berlangsung seru, semua ngasih pendapat, semua punya ide cemerlang. Ternyata ngeliat masalah bisa dari berbagai perspektif, misalnya gimana kalau ternyata perputaran roda ekonomi Surabaya memang berpusat di bisnis Dolly ini, alasan anak SMA jadi PSK bukan karena faktor ekonomi tapi karena broken home & cari perhatian, sampai ada teori supply & demand. Pada heran sama si Abi, tahu banget soal Dolly ini, sampai tahu tentang biang-biang Dolly yang namanya “Pokemon”. Ahaha. Curiga, mas Abi sering ke sana ya?

Setelah 45 menit diskusi, kami berkesimpulan bahwa kami semua setuju Dolly ditutup, demi sebuah usaha untuk mengurangi aksi ‘prostitusi’, bukan ‘lokalisasinya’. Yang tidak kami setujui adalah cara penutupan Dolly yang kurang ‘amunisi’. Kami menyarankan pemerintah untuk mencari data & melakukan penelitian untuk mencari tahu akar masalah Dolly. Mulai dari alasan warga menjadi mucikari & PSK, sampai cari tahu tentang “Pokemon”. Kalau pemerintah sudah tahu akar masalahnya, barulah mereka secara pelan-pelan bertindak untuk memberikan treatment yang sesuai dengan akar masalahnya itu. Misalnya untuk PSK karena faktor ekonomi akan diberikan skill & lapangan kerja, yang karena faktor psikologis akan diberikan rehabilitasi psikologis, dsb. Pemerintah harus sadar kalau penutupan Dolly ini tidak bisa secara instan, tapi butuh waktu, cara-cara yang tepat, konsistensi, & kerjasama masyakarat.

Fiuhh, seru banget sampai ga kerasa udah malam, jam 18.30 kami baru rampung. Setelahnya kami foto2 pakai hapenya si Elan, tapi dia belum ngirim via e-mail sampai sekarang. Hmm, kalau ketemu lagi, jitakin ah! Haha. Sayangnya kami ga sempat tukeran kontak krn sudah malam & buru2 pulang (T.T).

Oops, baru dikirimin fotonya sama Elan. Ga jadi jitak Elan, deh, Makasi ya, Lan. ini dia LGD Team paling kece! Ki-Ka: Abi, Ratih, Andrea, Mas Imam, aku, Sena, Elan. Minus Rangga, lagi sholat magrib dia.

Oops, baru dikirimin fotonya sama Elan. Ga jadi jitak Elan, deh, Makasi ya, Lan. ini dia LGD Team paling kece! Ki-Ka: Abi, Ratih, Andrea, Mas Imam, aku, Sena, Elan. Minus Rangga, lagi sholat magrib dia.

Alhamdulillah, hari yang lelah tapi dapat bonus pengalaman & teman-teman baru pun seru2. Ketemu temen lama juga, Mbak Muna, soulmate pendakian Gunung Fuji yang orang Kyoto University, & Dimas, junior YSEP Tokyo Tech, anak ITB yang pengen ke Delft. Oia, ketemu Gita Gutawa juga. Dia melamar beasiswa utk melanjutkan studinya di London itu. Subhanallah, Gita Gutawa anak yang berjuang utk mimpinya juga! Semoga lancar ya, Dek. *Emang adik saya??

Karena aku suka lupa nama orang (tapi inget mukanya), jadi aku daftar dulu ya aku kenalan sama siapa aja:

1. Rindang, S2 Biologi ITB, pernah exchange ke Nokodai juga ternyata.

2. Mbak Eva, S2 Keperawatan di Edinburgh. Bakal bawa bayinya ke sana, semoga lancar ya Mbak.

3. Dita, S2 Matematika ITB

4. Irna, S2 DKV ITB

5. Maya, S2 Bioteknologi IPB, mungkin kita ngekos bareng ya, ehehe.

6. Mbak Andin, S3 Hukum UI.

7. Reza, S2 Agronomi Pertanian UGM. Dari Purwokerto naik KA & nginep di lobby Kemenkeu. Semoga Allah SWT membalas usahamu dengan yang setimpal atau yg lebih baik ya, Bro. Aamiin..

8. Biondi, S2 HI ke Paris.

9. Abi, S2 Teknologi pertanian UGM. Ini nih yang seru diajak ngobrol, paling tahu soal Dolly. Haha.

10. Sena, S2 Biologi University of Wales. Padahal lagi S2 di FKUI juga. Sugoi naaaa..

11. Teman2 LGD yang ga sempet kuajak obrol banyak: Ratih, Andrea, Mas Imam, Rangga, & Elan.

12. Mbak2 yang ga sempet kuajak ngobrol banyak juga: Ceyi & Arni.

13. Mas2 sepantaran (atau jgn2 lebih muda ya?) yang kulupa namanya, tapi memperkenalkan diri dengan bilang “nama saya ….. dan saya sudah beristri.” Kupikir, hellooo aku bahkan ga kepikiran nanya dirimu single ato double, Bro. Oh, ternyata istrinya juga melamar LPDP, & mereka berduaan terus. Mas nya suka ngelus2 pundak & kepala sang istri utk menenangkan istrinya. Mungkin takut dikira pacaran ya. Hehe. Iya deh mas, saya ngerti.

 

Sekarang tinggal berdo’a supaya Allah SWT memberikan yang terbaik. Berserah kepada-Nya. Berdo’a sebanyak-banyaknya dan setulus-tulusnya. Untuk panitia LPDP, salut untuk kerja keras Anda semua mengurusi ribuan applicant, sampai nginep2 di kantor gitu. Terima kasih yaa..otsukaresamadeshita…

Untuk yang baca tulisan ini juga, otsukare..Terima kasih sudah mau baca & mohon do’anya..

Tinggal berserah diri ke Allah SWT. Apa pun itu, I believe that Allah gives me the best. (Taken from: arinaysays.tumblr.com)

16 thoughts on “Seleksi Interview & LGD Beasiswa LPDP

  1. Salam kenal mba dita, saya leti. Selamat atas kelulusannya. Btw saya juga lulus beasiswa LPDP yang tahap V (wawancara tgl 3 juni) dan kebetulan dapat jadwal PK 19 bulan Oktober nanti. Kalo mba dita uda dapat jadwal PK? Cuma pengen nanya, kalo uda dapet jadwal apa ada kabar-kabarinya setelah pembagian jadwal itu hehe… Terima kasih…

  2. halo mba, terima kasih sdh share yah.
    aku tertarik dengan wawancara LPDP krn namaku terlampir di pengumuman seleksi administrasi tahap agustus ini dan akan ikut seleksi wawancara berikutnya. mba ada beberapa hal yg mau aku tanya terkait wawancara.
    pertanyaan pertanyaan untuk magister dalam negeri apa saja ya mba?

    • Hai Fatia.
      Pertanyaan tiap peserta mungkin berbeda-beda.
      Intinya kita akan ditanya tentang kesiapan akademik kita, apa yang akan dilakukan untuk Indonesia setelah lulus,
      cara kita menghadapi masalah, kepemimpinan, dan organisasi/prestasi.
      Semoga sukses dan lancar ya sampai dapat LPDP nya!

  3. Assalamualaikum mba dita, saya lutfia. makasih sharing infonya. Menarik sekali. Mau tanya, apa dokter yang sudah menjalani masa residensi PPDS masih bs mendaftar? saat ini saya semester 1 pend. dokter spesialis d salah satu uni di Jatim, dan ingin apply beasiswa kl memang masih bisa.. makasih sebelumnyaa

    • Wa’alaikumsalam, Lutfia.
      Salam kenal!
      Saya kurang tahu kalau tentang status kedokteran.
      Kalau tidak salah LPDP akan buka (atau sudah buka, saya kurang update) program beasiswa untuk kedokteran spesialis.

      Untuk lebih jelasnya, silakan tanya ke pihak LPDP by email. Sebelum saya mendaftar, saya sering tanya-tanya via e-mail. Alhamdulillah mereka cukup responsif.

      Semoga Lutfia sukses selalu ya, tercapai cita-citanya. Aamiin..

  4. slmt mlm,
    saya ingin menanyakan perihal biaya pendidikan di magister IPB perkiraan bulan agustus 2015, sedangkan Pelaksanaan PK 40 di bulan september berbarengan dengan awal perkuliahan. mengenai hal tersebut apakah pihak LPDP dan IPB ada MoU untuk penundaan pembayaran setelah penandatanganan kontak beasiswa (yg sy denger dilaksanakan di akhir PK), atau jika tidak apakah saya membayar dulu nanti ada penggantian atau bagaimana? mengingat biayanya yang tidak sedikit.
    terima kasih sebelumnya.

    best regards,

    Azmi Asyidda Mushoffa

    • Assalamu’alaikum Azmi,
      Salam kenal.

      Maaf saya kurang tau berapa besar biaya pendidikan tahun ajaran baru ini karena besarannya berubah. Mungkin bisa cek web pasca IPB untuk detailnya.
      Alhamdulillah waktu saya daftar ulang, LPDP memberikan surat penangguhan pembayaran SPP dsb hingga saya selesai PK, jadi saya tidak membayar apa pun saat daftar ulang. Kalau masih bingung, bisa hubungi Customer Service LPDP (lebih baik lg kalau menemui customer service di kantor LPDP).
      Semoga sukses!
      Sampai ketemu di IPB, insya Allah.

      Salam,

      Dita

  5. Assalamualaikum.. Mba saya baru sj dpt pengumuman lulus beasiswa spesialis lpdp periode pendaftaran okt 2015 kmrn. Oh jd di hari H interview sekalian juga ada grup discussion ya mba? Duh deg degaaaan.. Ini seleksi beasiswa pertama saya😦

    • Wa’alaikumsalam. Selamat Kak atas kelulusannya di tahap pertama! Semoga sukses dan lancar di tahap berikutnya. Iya dulu sekalian ada FGD di hari wawancara itu. Sekarang kalau tidak salah itu ada bikin essay di tempat juga. Mungkin bisa dicek lagi di web LPDP bagaimana tahapan seleksinya yang terbaru. Semangat ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s