Book Review: Rectoverso by Dee

“Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia.” – Dee –

Laiknya tamu agung, buku kumpulan 11 cerpen Dee menyambut saya dengan quote di atas, yang sengaja disuguhkan di etalase depan bak barang paling antik yang merepresentasikan isi toko. Kesebelas cerpen yang tertuang di buku ini menyajikan dunia personal di mana hampir semua ceritanya menampilkan ‘aku’ sebagai tokoh, yang kebanyakan tanpa nama. Sudut pandang pertama inilah yang membuat saya merasa menjadi si tokoh, dengan kekuatan mantra bahasa Dee dalam mendeskripsikan rasa, sampai banyak sekali pemikiran si tokoh yang menurut saya sangat pantas didaulat menjadi kata-kata mutiara.

Buku Rectoverso karya Dewi

Buku Rectoverso karya Dewi “Dee” Lestari

Semua cerita diiringi lirik lagu di bagian depan sebelum akhirnya pembaca memasuki gerbang ceritera, yang memang menjadi soundtrack mereka masing-masing. Sayang sekali saya hanya mampu meminjam buku ini dari perpustakaan sekolah di mana saya bekerja dulu, jadi pantaslah saya tidak bisa meminjam satu paket dengan CD soundtracknya. Itu pun saya meminjam atas nama teman sekantor, yang membuat librarian menatap saya dengan tatapan hei-kamu-sudah-resign-tetep-aja-mau-minjem-buku-di sini. Tapi tak apa, biarlah saya tidak ‘membaca’ musiknya, yang penting saya ‘mendengar’ ceritanya. Film adaptasi 5 cerpennya dengan judul yang sama juga sudah rilis tahun lalu dan sudah tersedia di Youtube (yeay!). Belum sempat saya tonton sih, jadi penasaran apakah rasa visualnya bisa menyaingi rasa kata-kata Dee dan imajinasi saya. Hehe.

Film Rectoverso, visualisasi 5 dari 11 Cerpennya (Photo by dusunblog.com)

Film Rectoverso, visualisasi 5 dari 11 Cerpennya (Photo by dusunblog.com)

Saya paling suka cerpen dengan judul “Malaikat juga Tahu”. Ya, benar. Itu lho yang lagunya ‘Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya….’. Tanpa perlu kata kunci “Autisme”, Dee berhasil mendeskripsikan bahwa keabnormalan sang tokoh adalah gejala Autisme lewat perilaku dan kebiasaan yang dilakukan tokoh tersebut. Tokoh pengidap autisme itu sudah berumur 30an, dan jatuh cinta pada pacar adiknya. Tambah dramatis karena saya bacanya sambil mengelus kepala adik saya yang notabene remaja ber-autisme saat ia tidur. Otaknya mungkin autisme, tapi perkembangan tubuh bahkan hatinya sama seperti kita, manusia normal. Suatu saat dia mungkin juga akan menyukai seorang wanita, dan mungkin sampai benar-benar tulus, lebih tulus dari orang biasa. *Tuh kan, saya mau nangis…tisu mana tisuuuuuu~~~

Cerpen kedua yang saya suka itu judulnya “Cicak di Dinding”. Ini saya sukanya bukan karena julukan saya di geng kuliah itu “Cicak” ya, tapi karena hmmm….suka aja. Haha. Anda harus baca sendiri sampai Anda bilang, “Oh, pantesan suka cerita ini…”

Dua cerpen di dalamnya berbahasa Inggris, jadi jangan kaget mengira salah cetak. Saya bisa merasakan sih, expressing something in other languanges sometimes can be more powerful. *Halah sok-sok-an pake English juga.

For the time being, I think short stories that have been written by Dee deserve more than a hundred thumbs up!

Quotes super dari buku ini yang saya suka:

1. “Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa, karena kini kumiliki segalanya.”  

2. “Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.”  

3. “Tiada yang lebih indah. Tiada yang lebih rindu. Selain hatiku. Andai engkau tahu.”  

4. “Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.”  

5. “I’d like to find the guy who invented the proverb ‘go with the flow’ and lead him to an ocean full of hungry sharks. And see how he would flow. I’d really like to know.”

– Jakarta, 25 Juli 2014, sembari menemani adik bungsu saya tidur lelap siang-

*UPDATE*

Setelah masak makan malam akhirnya langsung nonton filmnya di Youtube hari ini juga. Agak kecewa sih sama filmnya, terutama sama part “Cicak di Dinding”. Kening langsung berkerut, di film ini kenapa tokoh cowoknya udah kenal duluan dengan tokoh ceweknya? Udah pacaran pula sebelum akhirnya si cewek jadi calon istri sahabat si cowok. Mana ada adegan xxx yang gak ada di buku, jadi mengurangi banget si sisi romantis dari cerita ini. Padahal di buku, si tokoh lelakinya jatuh cinta pada pandangan pertama sama si cewek justru pas dikenalin sahabatnya yang beberapa saat kemudian bilang kalo itu calon mempelai wanitanya. Ya, pelukis itu pun patah hati pada pandangan pertama, kedua, seterusnya, dan moga-moga, tidak perlu sampai mati.

Pun pada visualisasi cerita “Firasat”, lebih greget di bukunya. Di filmnya, kesannya terlalu mistis. Padahal imajinasi saya yang mentranslasikan cerita di buku mengatakan itu sebenarnya cerita biasa yang dibungkus keluarbiasaan.

Kabar gembiranya, saya puas total dengan filmisasi “Malaikat juga Tahu”. Akting Lukman Sardi bener-bener bikin pilu hati! Bikin ngebayangin gimana kalo giliran adek saya yang patah hati, tantrum sedemikian rupa…*again, tisu mana tisu~~rasanya kamar memang saya perlu sedia tisu.

Overall, I still more way like the book than the movie. Indeed, even the collaboration of sight and hearing like a movie can never win against imagination that’s driven by a book.

Simply saying, nothing can beat the power of book.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s