Momiji, Trekking to Takao-san

Edisi kangen “Nihon no iro-irona koto” kali ini saya dedikasikan untuk keluarga PPI Tokodai, karena tulisan ini mengulas acara jalan-jalan saya yang pertama kalinya dengan kalian!

Jalan-jalan kali ini dieksekusi demi memenuhi “ritual” momiji alias melihat (dan menikmati pemandangan) daun-daun berwarna merah/kuning saat musim gugur, secara berjama’ah alias bareng-bareng. Agenda wajib tahunan ini gak lain gak bukan adalah Trekking ke Takao-san. Takao-san yang dimaksud adalah gunung Takao. Saya juga baru tahu saat itu kalau menyebut nama gunung, orang Jepang lebih umum menggunakan imbuhan akhiran -san daripada -yama (yang artinya juga gunung). Jadi kalau bilang Gunung Fuji, pakainya Fuji-san, bukan Fuji-yama.

Takao-san terletak di daerah Hachioji, Tokyo. Jadi masih dekat dengan tempat tinggal kami di Tokyo coret (baca: Yokohama). Perjalanan kali ini dimeriahkan (dirusuhkan lebih tepatnya) oleh sebagian besar anak baru macam saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Saya lupa tanggal tepatnya kami hangout ke sana, tapi yang pasti pertengahan November 2011.

Tangga Hierarki Keluarga PPI Tokodai

Tangga Hierarki Keluarga PPI Tokodai

Di dekat stasiun tujuan kami, stasiun Takaosanguchi, ternyata ada Trick Art Museum! Wah, mata saya jadi berbinar-binar dan mulut setengah melongo ngeliatin Trick Art Museum. Pengen banget ke sana, tapi sayang seribu sayang, si Yudha tiba-tiba dari belakang nyeletuk, “Ta, pengen ke sana ya? Yah, hari ini kita trekking doang, ga ke Museum itu.” Terima kasih Yudha, engkau sukses meluluhlantakkan lamunan saya, membawaku kembali ke alam nyata.

Trekking di Takao-san cukup ringan, palingan jalan menanjak dan tangga-tangga, di sekelilingnya pemandangan pohon-pohon yang daunnya sudah merah. Asik banget, gak capek, karena pemandangannya luar biasa indah meski diguyur hujan. Subhanallah. Di bawah hujan itu, akhirnya kamera-kamera juga pada mandi. Para fotografer Tokodai pasang wajah-wajah worry memandang kameranya sedangkan model-modelnya malah ribut minta difoto dan diarahkan gayanya. Cici Lyta pun sudah meneriakkan komando semangat, terutama pada gerombolan siberat: Febry, Tirto, & Dani. Bunyi komandonya begini, “Aduh, ayo dong, kalian tuh harus semangat mendakinya. Liat tuh kakek-kakek dan nenek-nenek di sana, udah pada duluan kan mereka. Mereka aja kuat jalannya! Di Jepang tuh kalian harus banyak jalan!”

Sepanjang tangga kenangan~~

Sepanjang tangga kenangan~~

Di tengah perjalanan kami ke Barat (eh ke Puncak maksudnya, emang kite-kite rombongan Sun Go Kong?), kami menemukan toko kecil yang menjual Dango! Iya, kue dango yang “Hana Yori Dango” itu lho. Waktu itu kalau ga salah harganya 1 tusuk 500 yen (sekitar Rp55.000). Makan dango nya pakai gula merah cair dan teksturnya lebih kenyal daripada cimol. Jujur saya kurang suka makan dango, capek ngunyahnya, cepat bikin eneg karena manis. Setelah pertama kali mencicipi Dango di Takao-san ini, saya gak pernah beli Dango lagi (T.T)

kue Dango berjejer

kue Dango berjejer

icip-icip Dango!

icip-icip Dango!

Berikutnya setelah sampai di Puncak, kami menemukan kuil-kuil. Suasana cukup sepi karena cuaca yang hujan. Tapi berbagai ritual di sana tetap lanjut, seperti minum (atau malah melakukan sesuatu yang mirip wudhu) dengan air suci, dsb. Sebagian besar dari kami yang muslim cuma melihat-lihat saja, gak ikut ritual-ritual. Setelah itu, kami makan siang dengan bento masing-masing dan foto-foto sampai puas!

Suasana Kuil di Takao-san: Sunyi Senyap...

Suasana Kuil di Takao-san: Sunyi Senyap…

Semacam Poster Dorama Jepang, judulnya "The Wind that Autumn Blows". Haha

Semacam Poster Dorama Jepang, judulnya “The Wind that Autumn Blows”. Haha

Kalo yang ini: Foto Kalender 2011 SM

Kalo yang ini: Foto Kalender 2011 SM

Ba’da Ashar sekitar jam 16.00 JST kami akhirnya pulang, dengan setengah basah sampai ada juga yang kuyup (ini sih cowok-cowok yang gengsi pakai payung) dan moga-moga dengan kamera-kamera DSLR yang tidak masuk angin. Kereta menuju kampung Yokohama hampir kosong melompong waktu kami masuki. Lantas kami pun bernorak ria lanjut sesi foto rame-rame di kereta!

Sepinya Kereta dari Takao-san, dijarah anak Tokodai!

Sepinya Kereta dari Takao-san, dijarah anak Tokodai!

Special thanks to Photographer: Mas Johan, Yudha, Cici Lyta.

Model-model: Saya (Dita/Tata), Natalia, Bibay, Dani, Stephanie, Febry, Tirto, Irvan, Bentang, Nur Ahmadi, Shadad, Mbak Rahma (dan temannya, saya lupa namanya), Mas Gerald, Pakde Kunta, Mas Bayu.

Takao-san trekking Participant, Otsukare! Tanoshikatta!

Takao-san trekking Participant, Otsukare! Tanoshikatta!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s