Kutub

Siang terik hari ini aku berpetualang naik KRL ke Bekasi berduaan aja sama adik bungsuku yang paling ganteng, si Ary. Tujuannya sih mau ke museum alien di Mal Summarecon Bekasi, dan di sana kami akan jalan bareng sepupuku dan anaknya (alias keponakan).

Izinkan aku mengesampingkan cerita tentang museum alien dan acara ice skating kami, karena yang mau kuceritakan justru tentang perjalanan berdua bersama Ary. Bagaimana tidak berkesan, melakukan perjalanan berdua saja dengan Ary yang mengidap autisme, meskipun sebentar, membuatku banyak belajar dan menyadari banyak hal.

Kami berangkat dari rumah jam 11.10 WIB. Sebelumnya aku sudah mengajak Ary mengobrol tentang bagaimana dia harus bersikap selama perjalanan dan di mal, apa yang boleh dilakukan dan tidak, serta konsekuensinya. Obrolan itu pun aku tegaskan sampai berulang kali, berharap dia paham dan ingat. Tapi ya apa yang diharapkan tidak selalu terwujud. Ary super duper excited sama kereta dan pesawat. Jadi perilaku hiperaktifnya sulit dibendung kalau sudah menyangkut dua hal tersebut.

Sesampainya di stasiun Kemayoran jam 11.25 WIB, ternyata KRLnya baru ada lagi jam 13.00 WIB. Wow, menunggu 1 jam lebih! Aku sih tenang-tenang saja, walau aku seharusnya khawatir adikku yang gak sabaran ini akan tantrum dan sebagainya.

Kami duduk di peron sebentar, dan Ary sudah excited banget lihat kereta lokal yang ke Purwakarta. Mulailah dia berceloteh dengan volume suara yang besar dan mendekati kereta itu. Setelah kereta itu jalan pun dia sulit diajak duduk. Alhamdulillah ada bapak-bapak yang membantu menarik Ary waktu dia berjalan ke arah tepi peron agar tidak terjatuh. Saat Ary berhasil ‘ditaklukkan’ agar mau duduk, aku lakukan apa pun untuk membuat dia betah duduk, mulai dari mengajaknya mengurutkan nama-nama stasiun, nama-nama kereta, nama-nama kota di jalur pantura, sampai menghafalkan Juz Amma bersama dan kemudian diselingi shalat Dzuhur. Bapak-bapak yang menolong Ary tadi takjub lihat Ary bisa menghapal begitu banyak hal. Bapak itu bilang, Allah SWT Maha Adil, di balik kekurangan pasti ada kelebihan. Senang lihat si Bapak bisa mengerti Ary.

Namun, di hari ini juga aku melihat orang yang berseberangan kutub dengan si Bapak tadi. Ini terjadi saat kami mengantri di loket. Antriannya panjang banget! Ary yang tidak sabaran berjalan bolak-balik antara aku yang sedang mengantri dan loket di depan sambil mengoceh (dengan volume besar juga). Ada ibu-ibu tepat di belakangku mengajak ngobrol, ternyata beliau adalah guru SLB, dan mengerti kalau Ary begitu. Waktu aku hampir mencapai loket depan, Ary kembali berdiri di sebelahku dan tiba-tiba….seorang Bapak yang mengantri di antrian loket sebelah dan membawa anak perempuan berusia sekitar 2 tahun membentak Ary dengan kasar. “Heh, Berisik! Bisa diam, gak?! Dari tadi berisik banget!”. Aku terhentak, sedangkan Ary sudah pasti mengacuhkannya. Aku sontak meminta maaf dan meminta Ary untuk minta maaf juga. Bapak itu kebetulan sudah menyelesaikan urusannya dengan mbak-mbak loket, lalu dia menatap dengan tatapan yang….(menurutku) melecehkan sambil menggandeng anaknya agar cepat-cepat pergi seakan-akan Ary adalah virus yang mesti dihindari. Ibu-ibu di belakangku menenangkan, “Sabar ya Mbak, itu orang pasti gak ngerti,”. Aku cuma mengangguk dan cepat-cepat menyelesaikan pembayaran di loket dan pamit undur diri duluan sama ibu-ibu itu.

Ya, hari ini aku dan Ary berhadapan dengan orang-orang dari dua kutub yang berlawanan sekaligus. Bapak-bapak di kejadian pertama dan ibu-ibu guru SLB di kejadian kedua berada di kutub yang berlawanan dengan bapak-bapak yang membentak tadi. Yang menyekat mereka adalah: pemahaman dan perspektif tentang perbedaan. Memahami bahwa ada “orang-orang istimewa” di sekitar kita tidak berbeda dengan memahami bahwa dunia ini dihuni oleh orang dari berbagai macam ras dan agama. Yang protagonis, memahami bahwa perbedaan memberi makna dan mengayakan, sedangkan yang antagonis, memahami bahwa perbedaan adalah hal yang tak wajar.

Aku dan keluarga merasa beruntung Allah SWT menghadirkan Ary untuk kami, walau awalnya penerimaan itu sulit dicapai. Peluh, kesah, disalahkan, dicibir, diperlakukan tidak adil, ditatap aneh, diperlakukan seperti yang dilakukan bapak-bapak antagonis tadi, semua kami terima. Walau memang sebagai manusia, pasti ada sakit hati. Ya, sakit hati yang sudah terlatih, sudah terbiasa, hingga tak terasa.

Kami percaya, Ary adalah hadiah dari Allah SWT yang mendekatkan kami pada-Nya, mendewasakan, membuat kami bisa lebih menghargai orang lain, merasakan perjuangan, dan berbagai macam hal positif lainnya. Pemahaman tentang perbedaan itu, yang menarik kami menuju kutub protagonis, yang semoga makin protagonis dari hari ke hari. Tapi aku juga menolak untuk mengucilkan si kutub antagonis, karena aku percaya, mereka hanyalah orang-orang yang perlu pemahaman tentang apa itu perbedaan. Kalau Tuhan membedakan manusia dari ketakwaannya, menurutku manusia tidak bisa membedakan dari sisi mana pun, bahkan dari akhlaknya. Misalnya, menurutku, maling saja jangan dikucilkan, mereka hanya perlu dibimbing lagi ke jalan yang benar. Bukankah lebih indah begitu?

P.S.: Teruntuk Ary dan keluargaku, mari kita berjuang dan berlelah-lelah bersama, mencapai cita-cita dan kebahagiaan di dunia yang diridhoi Allah SWT, hingga kita bertemu lagi di surga-Nya. Aamiin…
Aku percaya Allah SWT menghadirkan orang-orang protagonis pun untuk menjaga Ary.

Cium peluk sayang,

Dita

Aku dan Ary: Narsis berduaan di KRL

Aku dan Ary: Narsis berduaan di KRL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s