Jangan Merokok, Adikku Sayang…

Siang terik ini setelah seminar pascasarjana (dan haru biru) tentang masalah kelangkaan dan penderitaan Orang Utan di Indonesia akibat kelalaian dan ketidakpedulian masyarakat terhadapnya, saya berniat tidur siang di kosan. Tapi apalah daya, saya sedang semangat sekali menulis. Ini “hanya” tentang kisah perjalanan pulang dari kampus ke kosan itu, tapi kisah yang sebenarnya hanya berjalan beberapa menit ini membuat saya berpengharapan besar untuk kebaikan kehidupan beberapa anak Indonesia, adik-adikku tercinta.

Saya berjalan pulang sambil berdendang bukan dangdut sekali-kali berganti dzikir (jangan dicontoh, dzikir kok bisa ganti-gantian sama humming nyanyi-nyanyi. apa-apaan itu!). Kutelusuri tanah tinggi bersemak di belakang gymnasium IPB. Di jalan setapak itu, kutemui 4 anak seeumuran SD akhir atau SMP awal. Keempatnya (atau mungkin tidak semua) menggamit rokok di antara telunjuk dan jari tengahnya, sambil sesekali cekikikan dan menyembunyikan rokoknya saat orang lain melintas di depan mereka. Aku permisi lewat di depan mereka. Berjalan dua-tiga hingga beberapa puluh langkah, perasaan resah terus menghantui. Apa aku benar-benar akan hanya melewati mereka tanpa melakukan apa pun? Bagaimana kalau nanti aku “dikeroyok” kalau aku ikut campur? Bagaimana tanggung jawabku terhadap Allah SWT di akhirat kalau aku membiarkan mereka? Bagaimana kalau mereka itu anak-anakku? Perang antara malaikat dan setan mungkin sedang seru-serunya di sana untuk memenangkan hati, pikiran, dan tindakanku. Semakin jauh ku melangkah, semakin rasa bersalah menumpuk. Hampir tiba di penghujung gang, aku berbalik langkah menuju anak-anak itu. Aku kuatkan diriku, kusebut nama Allah SWT berkali-kali agar Ia menguatkan dan memberanikanku, toh aku pernah menghadapi anak-anak kecil sebagai guru dan ini untuk jalan kebaikan, aku yakin Allah SWT mendukungku.

Tiba di tempat anak-anak itu, 2 anak sedang asyik menghisap rokok di balik pohon sedangkan yang 2 lagi sedang sibuk mencoba menyalakan rokok. Kucoba menyapa mereka, “eh, kalian kelas berapa? Asyik ya ngerokok? Diajarin siapa?”. Awalnya aku diceng-cengin sama mereka pakai “siapa….siapa yang nanya” sampai “masa’…masa’ bodo”, yang notabene adalah beberapa ceng-cengan khas acara The C*mm*nt itu. Aku cengin mereka balik pakai ceng-cengan yang sama. Hehe. Setelah aku merasa akrab (SKSD sih sebenarnya), barulah aku tanya lagi, siapa yang mengajari merokok. Salah satu anak menjawab Bapaknya yang mengajarkan. Kutanya lagi, apa mereka tahu bahayanya merokok. Mereka bilang tahu sih. Ya aku jelaskan, kalau merokok itu bisa bikin mati muda, sakit-sakitan, ga dapet-dapet cewek karena banyak cewek ga suka sama cowok merokok, dan lain-lain. Mereka sempat berkilah, Bapak-bapak aja ngerokok kok. Aku balas lagi, “kalian mau aku panggil “Bapak”? Awet tua nanti kalo ngerokok! Ngerokok tuh ga keren, percaya deh! Mungkin bapak-bapak juga udah bosen hidup kali!”. Asal aja aku ngomong, hehe.

Hope this kind of book is available in Indonesia to educate young teenagers not to smoke

Mereka perlahan mematikan rokoknya. Lalu kuajak mereka beli donat di dekat sana. Sayangnya hanya 1 anak yang mau ikut denganku meski kuajak semuanya dan kubilang “dikasih rejeki kok gak mau?”. Aku dan 1 anak bernama Aril itu berjalan ke toko donat sambil mengobrol. Aril mengaku baru masuk SMP dan ini pertama kalinya dia merokok. Di perjalanan aku yakinkan lagi alasan-alasan untuk tidak merokok. Kupanggil seorang mahasiswi berjalan di depan kami dan bertanya, “Mbak, mau tanya. Mbak mau gak kalau punya cowok atau suami yang ngerokok?”. Si mbak berjilbab hitam motif bunga-bunga itu sontak menjawab,”ya nggak lah mbak, gak keren!”. Ku kembangkan senyum kemenangan menghadap si Aril, “tuh, kan! Cewek-cewek gak ada yang mau sama cowok yang ngerokok!”. Aril nyengir bersalah. Sesampainya di toko donat, kubelikan Aril dan temannya beberapa donat.

Lalu kami kembali ke jalan setapak di belakang gymnasium IPB untuk menemui ketiga teman Aril yang tidak ikut membeli donat, tapi ternyata ketiga teman Aril sudah raib. Akhirnya Aril memutuskan untuk pulang. Sebelum berpisah dengan Aril yang menuju rumahnya di Balio yang berlawanan arah dengan kosanku, aku kembali berpesan agar dia tidak merokok dan mendo’akannya, “Aril, pokoknya kasih tau ke temen-temen kamu ya, kalo ngerokok itu gak keren. Ceritain kalo tadi ada mbak-mbak beneran gak suka sama cowok merokok. Kakak do’ain kamu dan temen-temen tercapai cita-citanya dan dapet jodoh yang cantik dan pinter, dan gak ngerokok lagi. Jadi bisa hidup sampe tua”.

Setelah berpisah, lega rasanya sudah melakukan suatu usaha. Entah cara tadi ampuh atau tidak untuk mencegah mereka agar tidak merokok lagi. Yang penting aku sudah mengingatkan dan mendo’akan mereka. Semoga Allah SWT menjaga mereka dan anak-anak muslim Indonesia dari kemungkaran dan memperbaiki akhlak mereka. Aamiin…

Teman-teman, bantu ingatkan adik-adik kita ya dari bahaya rokok dan narkoba!

One thought on “Jangan Merokok, Adikku Sayang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s