Trust Me, I’m a Scientist!

“Many people say that is it is the intellect which makes a great scientist. They are wrong, it is a character.” (Albert Einstein)

Jenius, berkepribadian aneh, berkacamata tebal, berkepala botak. Itulah kiranya label yang diberikan banyak orang pada ilmuwan. Namun, nyatanya tidak selalu demikian. Ilmuwan memiliki lima ciri/karakter khas yang ternyata bisa saja dimiliki oleh semua orang, termasuk kita. Dalam tulisan ini, saya akan bercerita tentang pengalaman hidup saya yang menggambarkan bahwa ciri khas ilmuwan pun bersemayam dalam diri saya.

Ciri pertama yang melekat pada ilmuwan adalah kemampuannya dalam menggunakan logika atau keilmuannya dalam menghadapi problematika sehari-hari. Ciri tersebut muncul secara nyata ketika saya memulai perkuliahan S1 di jurusan Kimia Universitas Indonesia. Saat itu saya baru memahami teori kepolaran serta karakteristiknya yang terkenal dengan sebutan “like dissolve like”. Karakterisitik tersebut membuat senyawa polar seperti air hanya akan melarutkan senyawa polar dan senyawa nonpolar seperti minyak hanya akan melarutkan senyawa nonpolar. Suatu hari, Ibu saya membuat sambal yang luar biasa pedas untuk makan siang. Sayangnya, saya yang tidak suka pedas tentu kebakaran jenggot setelah memakannya. Ibu saya menawarkan air hangat yang menurut pengalamannya dapat meredakan pedas dengan cepat, tapi tak kunjung berhasil. Lalu saya ingat, minyak atsiri yang menyebabkan pedasnya cabai seharusnya dapat dilarutkan dalam minyak juga, tetapi saya tak mau meminum minyak. Akhirnya saya mencoba meminum emulsi minyak dalam air, yaitu susu. Ternyata, pedasnya cepat hilang. Di situlah saya merasa dapat memecahkan masalah sehari-hari layaknya seorang ilmuwan.

Ciri kedua dari ilmuwan adalah tidak pernah putus asa. Karakter pantang penyerah tersebut saya asah saat saya melakukan penelitian di Jepang untuk skripsi tahun 2011 – 2012. Ketika itu saya mempelajari enzim yang berperan dalam biosintesis antibiotik Kanamycin. Sejak Oktober hingga Desember 2011, saya belum mendapatkan aktivitas enzim tersebut. Sensei (panggilan untuk professor di Jepang) saya juga heran mengapa saya tidak mendapatkan aktivitas enzim padahal saya telah melakukannya sesuai prosedur. Saya pun menutup pertemuan laporan perkembangan riset akhir tahun itu dengan sedih. Di kereta menuju asrama, saya termenung memikirkan apa penyebabnya. Tiba-tiba saya terperanjat karena tersadar bahwa saat melakukan pemurnian enzim, saya melarutkan reagennya dalam air dan bukan dalam buffer! Setelah saya mengganti air dengan buffer sebagai pelarut, aktivitas enzim akhirnya terlihat dan penelitian dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya. Meski sudah hampir jenuh tiga bulan awal penelitian tanpa hasil, tapi saya tidak putus asa berkat izin Allah SWT dan do’a keluarga serta kawan-kawan saya.

Yes, I am!

Pengalaman lain yang tak terlupakan tentang kepantangan saya untuk menyerah adalah saat saya berjuang memperlancar bahasa Inggris agar dapat belajar ke luar negeri. Meski teman-teman menganggap saya “sok” karena terus berbicara dalam bahasa Inggris, tapi saya terus berusaha sampai saya terbiasa berbahasa Inggris. Sampai akhirnya, skor TOEFL saya dapat mencapai 567 sehingga memenuhi syarat untuk pertukaran pelajar ke Jepang.

Terkait dengan pengalaman saya saat penelitian di Jepang yang telah saya ceritakan di atas, setelah saya mendapatkan aktivitas enzim, saya jujur pada Sensei bahwa kesalahan saya murni dikarenakan kecerobohan saya. Sensei terlihat kesal, ia berkata bahwa saya sebagai seorang kimiawan seharusnya memiliki “sense” bagaimana memberi perlakuan pada enzim. Namun, beliau menghargai kejujuran saya dan meminta saya belajar dari kesalahan tersebut. Kejujuran saya itulah gambaran karakter ketiga dari seorang ilmuwan, dan saya berharap dapat mempertahankan sifat ini dalam kehidupan saya.

Ciri lain seorang ilmuwan sebagai penegak kebenaran sudah muncul sejak saya duduk di kelas 1 SD. Saat itu saya diminta menuliskan 10 kalimat di buku sebagai pekerjaan rumah (PR) dan menuliskan sesuatu tentang kendaraan yang disebut “bajaj”.  Untuk mengamati bagaimana ejaan katanya, saya menghampiri sebuah bajaj dan menemukan tulisan “bajaj” di bagian belakangnya. Keesokannya, guru saya mengoreksi PR dan mengatakan saya salah mengeja kata bajaj. “Yang benar itu ‘bajay’, bukan bajaj”, katanya. Saya berargumen, bahwa ejaan “bajaj” lah yang benar, karena saya benar-benar mengamati ejaan yang tertulis di kendaraan tersebut. Tetapi guru itu tetap menyalahkan saya, hingga saya mau tak mau mengalah.

Setelah keempat ciri ilmuwan tersebut, kita tidak boleh melupakan ciri terakhirnya, yaitu “seorang ilmuwan juga seorang manusia” di mana ia akan menghadapi situasi yang mempengaruhi sifat manusiawinya. Situasi tersebut misalnya saat menghadapi ilmuwan pesaingnya. Hal ini pun pernah terjadi pada saya, yaitu saat mengikuti olimpiade fisika tingkat SMA se-Jakarta. Sebelum olimpiade dilakukan, saya berlatih memecahkan soal-soal fisika dengan peserta-peserta lain dari berbagai sekolah unggulan Jakarta. Karena kami sebenarnya bersaing, awalnya ada rasa segan dan takut kalah di antara kami. Tetapi setelah beberapa kali tatap muka, akhirnya kami saling kenal dan saling mengajarkan. Senang rasanya bisa bersama teman-teman yang sama-sama menyukai fisika dan bersemangat mempelajarinya.

Ya, ternyata saya memiliki kelima ciri ilmuwan tersebut. Saya berharap, karakter-karakter sebagai ilmuwan tersebut dapat terus melekat dalam diri saya, sehingga saya juga dapat menjadi ilmuwan besar yang karyanya bermanfaat untuk dunia suatu saat nanti.

Note: Tulisan ini adalah tugas essay mata kuliah “Metode Penelitian” di program pascasarjana Ilmu Pangan IPB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s