The Mudik 2015

Mudik (v): literally means “going home”, or “returning to one’s place of origin”, Muslims return to their kin, their family, their past and their hometown.

Most people in Indonesia, especially in Jakarta, will do “mudik”. Rich and poor, men and women, young and old, politicians and thieves, bureaucrats and commoners; they will flood the streets, airports, train stations and seaports usually a week before the post-Ramadhan celebration begins so that they can be reunited with their families during the festivity.

Couldn’t bear the euphoria of that “mudik” thing, I decided to also did “mudik” suddenly, joining my uncle’s family ride by car to Madiun, a small town in East Java around 700 km from Jakarta. My hometown of origin is actually in Solo, another town in Central Java, but I went to Madiun as my grandma is living there with my Dad’s sister. That time, I desperately needed to pay a visit to Madiun and gather with families from my Dad’s side since I hadn’t been done “mudik” for 4-5 years of Ramadhan time in a row and another reason that this might be the last Ramadhan of me being a bachelor, in shaa Allah. So then I travelled to Madiun for 24 hours from the normal travelling time of 16 hours because of heavy traffic. Ok then, the story of my “mudik” will be continued using Bahasa Indonesia afterwards.

The departure

Kami berangkat dari Bojongkulur (Bogor) sekitar pukul 5.15 WIB tanggal 12 Juli 2015. Kami melewati tol baru, Cipali namanya. Antrian tiap gerbang tol untuk melakukan pembayaran sangat padat, tapi setelah keluar dari gerbang, kondisi cukup ramai lancar. Seharusnya sampai di Pengadegan, kami keluar tol. Tapi karena Om Catur tidur dan yang nyetir anaknya, Adit, kami jadi “nyasar” lanjut lewat tol yang belum jadi. Jalanannya berpasir, kami jadi berasa off road dengan kecepatan maks 40 km/jam dengan jarak pandang sekitar 5-10 meter. Kami sempat istirahat pukul 20.00-24.00 WIB di rumah Om Maman di Pekalongan lalu melanjutkan perjalanan demi mengejar sunrise di Tawangmangu dan berkunjung ke Danau Sarangan saat sepi. Aku dan Luna, anak Om Catur sempat berkuda di Sarangan. Asyik juga, ada monyet-monyet juga di sepanjang jalur berkuda. Aku selalu suka dengan jalan-jalan ke pegunungan daripada ke pantai, mungkin karena adem kali ya. Suka banget lihat bunga Edelweiss, bunga terompet, dan wisata petik buah. Sayangnya karena kepagian, wisata petik Strawberry nya belum buka. Lebih oke lah daripada Puncak yang padat, at least lebih lengang. Hanya 1 jam berikutnya kami sudah sampai Madiun sekitar pukul 8.00 WIB.

Taman Wisata Sarangan, Tawangmangu

Taman Wisata Sarangan, Tawangmangu

Danau Sarangan

Danau Sarangan

The first days in Madiun

Hari-hari pertama di Madiun, I almost do nothing. Hmm, maksudnya almost going nowhere sih. Pengen ke Jogja naik kereta, jadwal ga cocok. Sepupu yang bisa jadi tour guide baru libur sehari sebelum lebaran. Jadi palingan masak dan nyuci aja di rumah. Hehe. Masakan rumah di Madiun jadi massive dan yahud banget: Sop Manten, Daging Lapis, sayur asem daging, ayam jago goreng, nasi liwet, nasi pecel, dsb. Tapi masakan andalanku yang ditunggu-tunggu keluarga saat berbuka puasa hanyalah sambel kecap. Gak ada aku berarti ga ada sambel kecap dan jadi gak nikmat makan tempe mendoan dan tahu bakso. Padahal bikinnya paling gampang, tapi emang dasar pada males bikin aja. Hehe. The first days yang sekitar 4 hari ini palingan kalau pun pergi cuma ke Gramedia, nemenin sepupu belanja, nyekar ke makam kakek, dan buka puasa bareng di restoran Itik Emas di hari terakhir puasa. Oia, Alhamdulillah aku gak melewatkan merasakan tarawih di masjid dekat rumah Madiun di malam terakhir tarawih karena biasanya aku cuma berjama’ah saja di rumah. Nyesel banget kenapa gak tarawih di masjid terus aja. Sholat di masjid Madiun aturannya agak berbeda dengan masjid di dekat rumah Jakarta, yaitu 8 raka’at dengan salam tiap 2 raka’at dan tausyiah dilakukan di antara shalat tarawih dan shalat witir. Ustadznya lucu dan tausyiahnya pun pakai Bahasa Jawa sehari-hari.

Bukber di restoran Itik Emas, Madiun

Bukber di restoran Itik Emas, Madiun

The Lebaran Day 1

Lebaran hari pertama aku habiskan untuk mengunjungi  saudara-saudara jauh dari pihak Ayah yang tinggal di Doplang. Jalanan berliku banget, tapi Alhamdulillah sudah much better dibandingkan jaman dulu dengan banyak jalanan yang rusak. Sepanjang jalan aku dan sepupu-sepupu kerjaannya nyanyi terus, mulai dari lagu Tulus, Westlife, Maher Zein, Taylor Swift, sampai Sheila on 7. Berasa pramuka deh pokoknya. Maklum darah muda. Aishhh. Empat jam kami tempuh hingga sampai Madiun. Sesampainya di Madiun, kami mengunjungi rumah kakak perempuan dari nenekku dan sepupu ayah, lalu ke rumah saudara-saudara dari nenek dan kakekku. Kami juga nyekar ke makam buyutku. Saatnya kembali Madiun di sore hari, dan sampai ke Madiun sekitar pukul 20.30 WIB dengan perut keroncongan. Alhamdulillah ditraktir Om Catur makan malam di restoran Lombok Idjo, dengan Iga bakar yang mantap dengan harga terjangkau, cukup 30k saja per porsi (^.^)

Salam Lebaran dari Madiun! depan ki-ka: Adit, Ilham, Dian, Luna, Tata, Avi. blkg ki-ka: Aku, Tante Tia, Om Catur Dimas, Mbah Ti, Bulik Titrin, Bulik Dwi.

Salam Lebaran dari Madiun!
depan ki-ka: Adit, Ilham, Dian, Luna, Tata, Avi.
blkg ki-ka: Aku, Tante Tia, Om Catur Dimas, Mbah Ti, Bulik Titrin, Bulik Dwi.

Makan malam di resto Lombok Idjo, Madiun

Makan malam di resto Lombok Idjo, Madiun

The Lebaran Day 2

Hari kedua lebaran lebih seru lagi, kali ini rally ke Ngawi dan Solo. Aku ke Ngawi hanya menggunakan motor dengan sepupuku, Dian, selama 15 menit dan melewati jembatan bambu yang cukup rapuh. Sensasi menyeberangnya mantap lah pokoknya. Di Ngawi, kami bertemu dengan Nenek dari sepupu dan mantan asisten rumah tangga yang mengasuhku dari usiaku 1 atau 2 tahun sampai kelas 3 SD, namanya Mbak Bibit. Nama anak pertama Mbak Bibit yang sekarang naik kelas 2 SMA juga diberi nama perpaduan namaku dan Ninit, jadinya Ninin. Setelah sarapan Soto daging buatan mbak Bibit yang sedap, aku melanjutkan perjalanan ke Solo dengan mobil Bulik Titrin bersama suaminya, Om Maman, dan anak-anaknya. Perjalanan ke Solo yang biasanya 2-3 jam dari Ngawi/Madiun, kami tempuh dalam 5 jam karena macet di Sragen. Sesampainya di Solo, kami langsung ke rumah produksi yang baru dibangun oleh kakak dari Om Maman. Ternyata sekalian syukuran rumah produksi baru, sekalian silaturahmi keluarga besar dari Om Maman di sana. Setelah dari sana, kami mengantar Avi, anak pertama Bulik Titrin ke Stasiun Purwosari Solo untuk pulang ke Jogja. Lanjut lagi kami nyekar ke makam adik bungsuku, kembaran Ary yang meninggal dunia sehari setelah dilahirkan, yaitu Adi Putra Ramadhan. Aku sudah lamaaa sekali gak nyekar, rasanya kangen sekali dengan Adi walaupun aku sama sekali tidak pernah melihatnya. Katanya Adi itu lebih mirip denganku, sedangkan Ary lebih mirip Ninit.

Malam harinya, aku diajak memutari Solo dengan mobil. Kami melewati Istana Mangkunegaran, pusat kuliner Solo, Jl. Slamet Riyadi (Jalanan metropolitannya Solo, kayak Sudirmannya Jakarta kali ya, hehe), sampai restoran es krim Bima yang sudah ada dari jaman aku cilik dan Mama pasti ngajak aku ke restoran Bima untuk makan es krim tiap mudik ke Solo dulu. Nostalgia deh pokoknya. Sekarang Solo bertaburan café gaul di mana-mana, tanpa menghilangkan khasnya Solo, yaitu angkringan nasi kucing dan susu sapi segar. Sebelum pulang ke Madiun, kami makan malam di dekat rumah Mojosongo, yaitu di Omah Wedang. Makanannya nasi kucing dan lauk segala rupa, mulai dari sate bakso, ceker, mie sosis, dsb. Makanannya serba 2ribu. Untuk minumannya, susu jahe tentunya. Kami bersembilan makan dengan total 149k saja, saudara-saudara! Namanya juga Solo…murah meriah! Sepanjang perjalanan, aku dan Tata (anak perempuan kedua Bulik Titrin) tidak henti-hentinya bernostalgia, mensyukuri betapa beruntungnya kami punya masa kecil yang indah di Solo dan menyayangkan sepupu terakhir kami, si Luna, tak punya memori yang sama dengan kami tentang Solo karena Mbah Putri sudah pindah ke Madiun saat dia lahir. So, deep inside our hearts, Solo will always be our hometown.

Makan Malam di Omah Wedang, Mojosongo, Solo

Makan Malam di Omah Wedang, Mojosongo, Solo

The “Arus Balik”

Keesokan harinya, aku pulang sendirian ke Jakarta dengan bus Rosalia Indah pukul 11.30 WIB, terlambat dari pukul 10.00 WIB yang dijadwalkan. Aku menikmati perjalanan 20 jam itu, terutama saat melewati Solo (again, my heart really into Solo) dan tol Bawen-Manyar Semarang di malam hari yang cantik dengan pemandangan lampu-lampu perumahan di bukit-bukit sekelilingnya. Menempuh jalan darat dengan mobil/bus memang paling cocok untuk menikmati pemandangan dan rupa kota-kota yang dilewati. That’s the end of my mudik journey, mudik yang berkesan setelah 4-5 tahun tidak mudik. Semoga Ramadhan-Ramadhan berikutnya aku bisa mudik lagi seperti ini (^.^). Aamiin Ya Rabb..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s