So This is What Marriage is…

Time flies. Dua purnama sudah kami lalui sebagai suami-istri. Ya, saya dan seorang lelaki teman sedari kecil bernama Wisnu Indrajit. Tak hentinya saya bersyukur telah dikaruniai seorang suami sholeh yang menurut Allah SWT terbaik untukku.

Pekan pertama menjadi pasutri kami habiskan dengan honeymoon. Akhirnya pacaran dengan halal! Alhamdulillah terbayar sudah kesabaran kami untuk tidak berpacaran sebelum menikah. Ternyata pacaran setelah menikah itu unyu, lucu, deg-degan, cheesy (yang paling gombal siapa lagi kalau bukan suami saya).

Pekan kedua dan seterusnya, saat sudah masuk ke rutinitas, kami mulai beradaptasi dengan kebiasaan, kesukaan dan ketidaksukaan masing-masing, how to deal with problems, etc. Karena saya masih harus menjalankan penelitian tesis di IPB Dramaga sedangkan suami kerja di Jakarta, jadi lah kami “Pasutri Weekend“, di mana Jum’at malam adalah waktu yang paling dinanti untuk bertemu kembali setelah weekdays menjalani rutinitas masing-masing dengan terpisah jarak.

SAMSUNG CSC

Husband and I, Partner in crime

 

Saya pun masih belajar bagaimana membuang ego, bukan mengesampingkan ego. Benar-benar harus belajar dan berubah menjadi lebih baik, karena saya adalah istri yang jaauuuuuhhhhh banget dari sempurna. Alhamdulillah suami saya orang yang tegas, beliau support saya untuk menjadi lebih baik. Well, sebagai wanita yang dulu independent (ga mau dibilang “jones” ceritanya) tanpa ada lelaki hebat yang rutin memberi kritik yang membangun dan enjoyed life as the way I am, gak dipungkiri sih kalau sebenarnya minder banget karena kayaknya saya kurang di sana-sini, gak punya keunggulan yang bisa dibanggakan. Berasa aku mah apa atuh..hehe. Ya begitulah ego wanita independent, saya harus belajar menerima kritik dan saran orang lain demi menjadi lebih baik dan no excuses.

Belajar, dan terus belajar. Saya masih belajar bagaimana menghargai dan menghormati lelaki yang dulu adalah teman biasa (pernah jadi luar biasa juga sih) yang sekarang menjadi suami saya. Masih in disbelief aja sebenarnya kalau jodoh saya adalah seorang Wisnu Indrajit, seseorang yang gak pernah diduga jadi tersangka yang melamar saya setahun lalu. Karena otak saya masih membayangkan dia seperti seorang teman, awalnya agak aneh untuk mengurus keperluan satu orang istimewa itu, seperti misalnya menyiapkan kemejanya, membuat teh untuknya, dll. Sampai pernah sempat juga lupa punya suami. Hehe.

Ya, menghargai dan menghormati. Menghargai sekecil apa pun kebaikan suami, menghormati setiap keputusan yang dibuatnya, kadang bukan hal yang mudah. Namanya juga istri, yang tidak lain adalah seorang manusia berjenis kelamin wanita (ya iyalah). Suami sempat memberi ide untuk membuat buku list kebaikan suami/istri. Nanti kalo lagi marahan, buka deh buku itu, untuk mengingatkan kita betapa banyak dan berartinya kebaikan suami/istri. Hmm, belum sempat menulis sih, tapi lewat tulisan ini beberapa sudah tersampaikan.

Bagaimana dengan “penghargaan” suami untuk saya? Karena saya orang yang pemalu (iya, anggap aja begitu), saya merasa belum bisa me-reply dengan baik pujian dari suami. Misalnya, waktu itu saya buat omelette pakai rice cooker, saya gak pede dengan rasanya yang menurut saya terlalu asin, tapi suami malah bilang “enggak keasinan kok, aku malah suka” sambil makan dengan lahap. Saya cuma bisa diam, padahal sebenarnya hati melompat girang. Mungkin karena grogi ya, soalnya jarang sih dipuji soal masakan, secara keluarga saya kalau saya masakin ya dimakan gitu aja. Duh, padahal waktu dia muji aku pengennya dengan manis balas, “makasi sayang, nanti aku masakin lagi yang lebih enak.” (Auuuu, cheesy to the max!). Ngomong-ngomong tentang pujian, saya adalah orang yang (masih) gengsi memuji suami di depan orangnya. Gara-gara itu, suami suka nagih minta dipuji kalau dia ganteng atau yang lainnya. Hehehe kasian amat ya suamiku. Hmm saya harus belajar memuji nih.

Favorit saya, kalau suami lagi perhatian baik dengan atau tanpa diketahui saya. Seperti waktu itu, saya terkantuk-kantuk di mobil dalam perjalanan dari Batu ke kota Malang. Saya yang masih setengah sadar, merasa suami pindah posisi mendekati saya, ternyata maksudnya supaya kepala saya bisa bersandar di bahunya. Aih, so sweet nyaaa. Sebenarnya dia memang sweet, tapi sweet nya sering tertutupi sama kejahilan dan “kesombongan”nya yang antara ngangenin dan nyebelin. LOL.

Paling senang saat kami saling mengingatkan dalam kebaikan dan mengingat Allah SWT. Shalat berjama’ah sama suami adalah moment yang paling aku tunggu-tunggu dan pasti paling ngangenin. Berbagi kebahagiaan dengan yang membutuhkan, ikut kajian Islam bareng, dsb adalah hal-hal yang paling menyejukkan. Tapi akhir-akhir ini frekuensinya menurun, jadi masih harus kami evaluasi lagi untuk kegiatan ibadah ini nih. Ganbarimasu!

Anyway and anyhow, masih banyak yang harus kami wujudkan. Mimpi-mimpi, visi ke depan, keluarga yang diberkahi Allah SWT dan sakinah mawaddah warahmah sampai ke Jannah-Nya. Dan, masih banyak suprises entah itu the good ones or the bad ones yang harus kami lalui. Seperti kata suami saya, semoga semua tentang kita ini menjadi penambah rasa syukur terhadap Allah SWT. Aamiin.

*Tulisan ini untukmu, yang diberitakan akan menjalankan amanah ke Vietnam selama 2 bulan. P.S.: I love you.

 

 

3 thoughts on “So This is What Marriage is…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s