0

I’m Imperfect as a Mom, But That’s Okay

Assalamu’alaykum. Apa kabar dunia? Alhamdulillah, sudah 4 bulan saya menjadi ibu. Kata orang, jadi ibu itu bahagia tapi berat karena tidak bisa senang-senang atau santai-santai seperti saat jomblo dulu. Jangankan ke mall nonton bioskop & makan-makan, cari waktu mandi & makan aja susah. Apalagi jadi ibu rumah tangga (IRT) yang di rumah berdua doang sama bayi?! Gak bosan tuh? Atau jadi ibu bekerja, lalu saat di rumah masih harus mengasuh anak & mengerjakan pekerjaan rumah? Super sekali. Ditambah lagi ekspektasi orang sekitar atau bahkan ekspektasi kita sendiri supaya kita menjadi ibu yang super, hebat, sempurna. Fiuh. Lelah Hayati kalau begitu.

Well, saya sebagai ibu tentunya tidak sempurna. Meski perempuan bisa multi-tasking, mengasuh, dan mendidik anak ditambah mengerjakan pekerjaan rumah sendiri bukanlah hal yang mudah. Fisik dan mental, semua diforsir dan diuji.

Sempat baby blues? Iya, Alhamdulillah cuma sebentar & tidak parah, yakni “hanya” merasa kurang mampu merawat dan menyusui bayi di awal pasca melahirkan, wong gendong bayinya saja masih takut-takut. Berkat Allah SWT yang memberikan saya suami yang sangat membantu mengurus si kecil dengan telaten dan pengetahuan mengenai baby blues serta segala hal tentang menyusui & merawat bayi, saya jadi tidak lama tenggelam dalam lautan baby blues tersebut. Tentu utamanya saya harus menerima diri kalau saya bukanlah ibu yang sempurna, namun hanyalah ibu yang mau melakukan yang terbaik untuk keluarga & anak. Ya, prinsip saya sebagai IRT adalah urusan primer keluarga seperti bermain bersama anak, kebutuhan suami, memasak, & mendekorasi rumah adalah prioritas utama saya. Sedangkan hal-hal yang tidak “menyangkut hati” anggota keluarga seperti mencuci, menyetrika, menyapu & mengepel bisa didelegasikan. Syukur-syukur kalau semua bisa dikerjakan sendiri atau berdua suami tanpa ART. Manajemen diri ini pun saya masih belajar banget, semoga Allah SWT memberikan saya kekuatan & kelancaran menjalaninya ya. Mohon do’anya.

Tantangan menjadi ibu lainnya adalah “mom shaming”. Apa itu? Ya itu lah yang bikin “serba salah” sebagai seorang ibu. Semuaaa serba dikritik. Jadi ibu rumah tangga dibilang “gak sayang tuh sama ijazah, S2 atau S3 kok cuma di rumah aja ngurus anak”, giliran kerja dibilang “gak sayang ya sama anak, kok anaknya ditinggal kerja?”. NGAKAK KESEL moment banget kalau kedua pernyataan tersebut keluar dari mulut satu orang yang sama, dialah orang ter-tidak konsisten sedunia. Belum lagi kalau “parenting style” kita dikomenin, karena semua tidak seindah teori, saudara-saudara. Bismillah kalau saya mah, cintai pilihan kita, berusaha semaksimal mungkin dan Lillahi Ta’ala, niscaya Allah SWT akan memberkahi dan membalas setimpal.

Nah, saya melawan semua yang membuat stres ini dengan me-time saya. Me-time seperti apa? Apa dengan menonton drama korea (drakor) seperti yang saya senangi sebelum menjadi ibu misalnya, stres saya bisa hilang? Hmm, bisa jadi sih. Tapi bagi saya menonton drakor kurang bermanfaat dan hanya pengusir penat yang fana, jadi saya mencari alternatif me-time yang memiliki beberapa manfaat sekaligus. Jadi 2-3 pulau terlampaui. Ya, me-time saya saat ini adalah belajar dan menulis. Waduh, apa pula ini mah bukan me-time?! Alhamdulillah sedari jomblo saya suka banget sama yang namanya belajar dan menulis, jadi bukan sesuatu yang horor buat saya (yang mungkin buat sebagian orang itu horor ya, hehe). Belajar dan menulis seperti apa sih yang bermanfaat buat emak-emak? Berikut laporan reporter Diana Ayu Nindita dari TKP :

  • Belajar

Belajar yang menyenangkan buat emak-emak tidak lain dan tidak bukan adalah belajar tentang merawat dan mendidik anak, manajemen keluarga, manajemen diri, psikologi, masak, dan hal-hal yang menyangkut kerumahtanggaan lainnya. Sekarang media belajar sudah macam-macam ya, gak cuma dari buku dan sekolah doang. Bisa kuliah whatsapp/telegram, baca instagram dokter/psikolog anak, ikut seminar parenting, nonton youtube parenting, dan macam-macam lainnya. Yang penting kita harus jeli dan kritis terutama tentang sumber atau narasumbernya. Saya lebih memilih sumber primer, yakni bersumber dari yang ditulis/diseminarkan/dikuliahkan oleh dokter/psikolog anak yang mencantumkan/berdasarkan penelitian yang up to date. Istilahnya sudah dirangkum secara ilmiah dan terpercaya oleh ahlinya gitu lho, karena gak mungkin kan saya bacain jurnal ilmiah kedokteran/psikologi satu persatu. Saya paling suka dengerin youtube channel dr. Tiwi, SpA sembari jemur pakaian atau cuci piring, hehe. Saya juga suka dengerin parenting nabawi nya Ustadz Budi Ashari atau Fitrah Based Education nya Ustadz Harry Santosa. Kalau anak lagi tidur, saya suka baca buku/instagramnya dr. Apin, kepoin instagram psikolog di @kitadanbuahhati binaan Bu Elly Risman, Abah Ihsan di @abah_ihsan_official, Bu Okina Fitria di @okinaf, dan lembaga psikologi seperti @rainbowcastleid atau @rabbitholeid, dan @rumah.dandelion.

Sering juga denger orang ngomong, “anak baru 4 bulan, rajin amat baca gitu-gituan? Masih jauh kali. Teori doang itu lah. Bapak saya gak ikut-ikutan parenting tapi anaknya sukses semua.” Jaman udah beda bro/sis, jaman dulu gak ada gadget dan rupa-rupa keburukan akhir jaman. Tantangannya berat. Jangan sampai kita dititipkan Allah SWT anak dengan fitrah kebaikan, kita kembalikan dengan keadaan hancur fitrahnya karena tergerus jaman. Saya sadar kalau saya tidak sempurna dan bukan malaikat, yang mungkin juga punya luka-luka inner child yang masih membekas karena kesalahan pengasuhan orang tua saya. Kalau saya tidak belajar, sombong sekali rasanya. Padahal, Allah SWT, Rasulullah SAW beserta keluarga dan sahabatnya sudah banyak memberikan contoh parenting yang baik. Masa’ kita tidak mau mempelajarinya walau setetes pun? *Mulai dramatis.

Bukan hanya itu alasannya. Saya benar-benar terbantu oleh pengetahuan-pengetahuan yang saya baca/dengar tersebut lho. Minimal karena pengetahuan tersebut, saya jadi ngeh kalau ada sesuatu yang salah atau harus dicegah. Misalnya, karena saya membaca buku tentang ASI dan menyusui saat hamil, saya jadi ngeh kalau anak saya punya tongue tie-lip tie (tali lidah-tali bibir) yang cukup parah hingga saya pun terkena imbasnya berupa mastitis. Jadi hal tersebut segera teratasi. Saya juga jadi tahu kalau dot, empeng, baby walker, dan banyak peralatan bayi lainnya banyak yang tidak direkomendasikan oleh dokter, jadi saya tidak beli barang-barang tersebut. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya jadi tidak stres karena bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat dari pengetahuan yang dimiliki, dan kalau ada masalah dalam perkembangan anak misalnya, kita cepat notice masalah tersebut.

Ternyata banyak ya manfaatnya kalau belajar dijadikan me-time?

  • Menulis

Sebagai wanita yang perlu mengeluarkan 20.000 kata dalam sehari, pastinya daripada dipendam atau jadi (makin) cerewet, saya memilih untuk menulis. Biasanya saya menulis uneg-uneg atau ilmu baru sih. Terapi menulis ini lumayan banget membantu mengeluarkan stres. Pernah saya ikut kuliah whatsapp tentang terapi menulis. Narsumnya bilang kalau kita lagi kesel sama orang, boleh banget lho nulis di diary atau blog gitu tentang kejelekan orang itu, tapi diary atau blog nya mesti dikunci ya. Tapi saya jarang sih menulis tentang kekesalan sama orang lain, meski pun pernah 1-2x karena sebel banget sama tuh orang. Kalau di sosmed, harus diperhatikan sih ya, tulisan kita menyakiti orang lain atau ngga, atau bahkan perlu banget dipertimbangkan bermanfaat atau ngga. Bukannya nge-judge, tapi saya beneran masih penasaran apa ya motif ibu-ibu di sosmed yang laporan tentang ASI perahnya hari itu berapa mL? Anyone knows? Soalnya saya gak mau su’udzon tapi saya dan orang lain kayaknya gak perlu tahu tentang hal itu. Hehe peace, moms. Kalau milestone anaknya, ya okelah saya mengerti memang hal itu adalah something that we usually proud of.

Oh iya, ada 1 lagi nih hal penting yang gak boleh terlupakan biar para ibu gak stres, yaitu menertawakan diri sendiri. Caranya? Saya suka kepoin instagramnya mbak Puty Puar @byputy yang isinya komik tentang tingkah polah dan hal-hal lucu yang dialami ibu-ibu, yang seringnya bikin kita berdecak, “yah, gw juga nih ngalamin hal ini”. Misalnya, pas kita kontrol jahitan ke RS pasca lahiran eh pas nimbang malah ditanyain susternya hamil berapa minggu gegara masih gendut. Haha ini mah saya ngalamin banget! Banyak deh hal-hal lain di komik itu yang bikin para ibu-ibu relate satu sama lain, makanya dijadikan komik yang diberi judul “komik persatuan ibu-ibu”, biar mencegah moms war yang bakal jadi perang dunia ketiga kalau terjadi. Haha. Secara persaingan emak-emak memang diam-diam menggeliat hebat di bawah tanah di bawah alam sadar lho. Daripada nyalah-nyalahin, mendingan ketawain diri sendiri deh yang gak sempurna ini sebagai seorang ibu. Itu lebih manusiawi.

Tapi sayang seribu sayang, saya belum punya komiknya, soalnya sold out di mana-mana euy. Nah, Alhamdulillah beberapa waktu lalu saya dapat angin segar karena sepertinya komiknya sudah dicetak ulang, bahkan mau ada acara ngobrol bareng sama penulisnya si mbak Puty Puar. Daaaan karena ini lah saya semangat menulis lagi! Tak lain dan tak bukan karena mau ikut giveaway tiket talkshow nya. Hehe. Well, memang sudah lama saya perlu menulis dan kebetulan terpacu karena (mungkin) bisa dapat bonus berupa buku & tiket talkshownya, karena saya posting tulisan ini juga terlambat ya, harusnya jam 17.00 WIB tadi ini, hahahaha baru tau peraturannya. Tapi gak apa-apa deh, iseng aja masukin formnya siapa tahu tulisan ini dibaca sama mbak Puty (ngarep banget yesss). Tentang komiknya bisa di check out di https://komikpersatuanibuibu.bentangpustaka.com/ dan acara talkshow nya juga didukung oleh tabloid Nova http://nova.grid.id/

Saya menulis tulisan ini karena #ILoveMyImperfections untuk jadi ibu yang (lebih) waras dengan merenung atau me-time #5menitaja.

 

Advertisements
3

Kelas Pra-Matrikulasi Institut Ibu Profesional, Get a Go From Here!

Institut Ibu Profesional. What’s coming to your mind hearing that name? Kayaknya keren ya. Atau heran, memangnya ada institut kayak gitu? Well, saya sebenarnya sudah mengenalnya sejak jaman old (jaman kuliah atau baru lulus kuliah S1, which was 4-5 years ago). Saat itu saya menghadiri kajian umum di masjid UI, kalau tidak salah tentang kajian pra-nikah (masih jomblo kiyis-kiyis yang penasaran kenapa sebelum nikah perlu ikut kajian pra-nikah). Anyway, saya waktu itu takjub pisan sama Bu Septi Peni Wulandari. Beliau menemukan metode jarimatika dan mendirikan institut ibu professional. Sebagai ibu, beliau berpikir bahwa menjadi seorang ibu juga adalah profesi, dan seharusnya juga merupakan profesi yang terhormat, kalau bisa setiap ibu punya kartu nama bertuliskan “ibu professional”. Pemaparan beliau tentang sepak terjang beliau menjadi seorang ibu yang membimbing anak-anaknya untuk sukses dunia-akhirat, menjadikan saya fix sebagai fans beliau, hingga berazam semoga nanti kalau sudah menjadi seorang istri, saya harus ikut institut ibu professional (IIP) ini.

Hasil gambar untuk institut ibu profesional

Institut Ibu Profesional (Picture was taken from: https://www.kompasiana.com/novi.ardiani/menjadi-ibu-profesional-harus_5733fc22cf7e61b104f73ff)

Setahunan menjadi seorang istri, saya pernah mencari tahu bagaimana mendaftar IIP itu. Entah saya yang kurang menggali atau bagaimana, kok saya tidak menemukan info tentang bagaimana cara bergabungnya. Selang beberapa waktu, ternyata saya menemukan kalau teman kuliah saya ikut kelas matrikulasi IIP. Langsung deh tanya-tanya ke dia dan dapat link pendaftaran batch 5 wilayah Depok. Waktu pendaftaran yang cukup lama membuat para calon peserta (termasuk saya) cemas, kami diterima atau tidak, apakah kami terlewat deadline, dsb. Alhamdulillah, akhirnya ada e-mail dari IIP masuk dan kami langsung masuk ke Grup WA Foundation IIP Depok. Di kelas foundation ini, kami diperkenalkan apa itu IIP, kelas apa saja yang bisa kami ikuti setelah resmi menjadi member, peraturan/code of conduct member IIP, dll. Ya, sebelum menjadi member resmi IIP, kami harus menjalani kelas pra-matrikulasi (optional), dilanjutkan dengan kelas matrikulasi. Di kelas matrikulasi ini, akan ditentukan apakah kita lulus untuk menjadi member IIP atau tidak. Jika belum lulus, diberi kesempatan mengulang 1x lagi (atau 2x lagi, maaf saya lupa waktu itu padahal sudah didiskusikan. Pokoknya semoga nanti saya lulus, sehingga tidak perlu memikirkannya, hehe). Kelas matrikulasi ini berupa sneak peek dari 4 kelas utama di IIP: Kelas Bunda Cekatan, Bunda Sayang, Bunda Produktif, dan Bunda Saleha.

Nah, saya sekarang masih di kelas pra-matrikulasi. Masih panjang ya perjalanannya. Kelas pra-matrikulasi via grup WA ini diawali dengan sharing pengalaman menjadi member IIP dari fasilitator (fasil) wilayah Depok. Mereka mengaku semakin menjadi mak-mak produktif setelah ikut IIP. Ada yang sebagai working mom sekaligus punya proyek sosial, Masya Allah. Setelah itu, kami belajar tentang google drive, google doc, google sheet, bitly, dan blog sebagai media pembuatan tugas di kelas-kelas berikutnya. Jadilah kelas pra-matrikulasi ini bikin saya makin hi-tech (bukan hi-tech kayak bisa coding atau jadi hacker gitu lho ya). Meskipun saya sudah lumayan familiar dengan google drive sebelumnya karena memang pakai itu untuk kuliah, tetap saja seru kok ngutak-atik google drive dan kawan-kawannya lagi. Terlebih saya jadi mengaktifkan blog yang mati suri ini, sambil berharap lebih banyak orang yang baca blog saya *mencoba jadi blogger celebrity detected*. Oops, maksudnya semoga blog ini lebih bermanfaat bagi orang banyak saja. Kalau ada manfaatnya, silakan ambil yang baik-baik, kalau ada yang tidak baik atau kurang berkenan, saya mohon maaf ya.

Yup, segitu dulu celoteh saya. Semoga saya bisa diterima jadi member IIP, menjadi ibu yang sholiha-produktif-cekatan-sayang & disayang keluarga, plus bisa bermanfaat bagi masyarakat. Aamiin…

0

Kehamilan Tak Terduga, hanya karena Allah Maha Baik

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…

Segala Puji bagi Allah, All praise to Allah..

Benarlah Allah Maha Pengabul Do’a hambaNya,  Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Menciptakan, dan Maha Menghidupkan.

Rizki dari Allah SWT berupa kehamilan akhirnya Allah turunkan pada saya, setelah 1 tahun 8 bulan pernikahan. Saya pun sampai masih takjub. Saat tulisan ini ditulis, Alhamdulillah saya sudah mencapai usia kehamilan 12 weeks. Selalu penasaran, janinnya tumbuh sehat tidak ya? Perut berasa masih rata (gak serata Agnez Mo sih ya, jauh beda lah ya haha), berat badan masih naik turun dengan standar deviasi 1 kg, pun masih nausea & vomiting. Begitulah, saking masih tak percayanya.

Bukan tak percaya atas kebesaran Allah SWT, memang ya manusia bisa apa, hanya bisa berkata “tidak mungkin”. Padahal kalau Allah berkehendak, Allah katakan “jadi lah!”, maka jadi lah ia. Manusia berilmu (a.k.a dokter) berkata, sangat tipis kemungkinan saya hamil karena ada suatu kelainan/penyakit dalam diri saya yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Alhamdulillah masih ada kemungkinan walau sangat tipis. Ibarat ilmu statistik saya yang kacau, saya pun tak berani berspekulasi kalau kemungkinannya bisa mencapai 10%.

Kegalauan saya yang waktu itu belum diberi rizki hamil oleh Allah kuat sekali rasanya, lebih dari kegalauan sebelum punya jodoh (dulu sih enteng aja belum nemu jodoh, udah pasrah juga siapa wae lah yang mau asal sholih, nyari-nyari banget juga ngga, santai macam di pantai). Orang-orang di sekitar mungkin punya persepsi, bahwa “sudah seharusnya” atau “sudah haknya” bahwa orang yang menikah itu punya anak. Padahal, hak memberikan atau bahkan tidak memberikan anak pada kita hanya milik Allah semata, seperti yang sudah Allah firmankan dalam Al-Qur’an:

“Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Ia menciptakan apa-apa yang Ia kehendaki. Ia memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki anak-anak perempuan dan Ia memberikan kepada siapa yang Ia kehendaki anak-anak laki-laki. Atau (Ia memberikan kepada siapa yang ia kehendaki) anak-anak laki-laki dan perempuan. Dan Ia jadikan siapa yang Ia kehendaki mandul (tidak dapat mempunyai anak). Sesungguhnya Ia Maha Mengetahui (dan) Maha Berkuasa[1]” [Asy-Syuura : 49-50].

Rasanya tenang setelah membaca ayat tersebut, bahwa Allah SWT sebenarnya sudah memberi tahu kita dan menepis persepsi kebanyakan orang. Ya, bahkan saya pasrah jika Allah menakdirkan saya tidak memiliki anak sekali pun karena mungkin itu yang terbaik menurut Allah & mungkin saya bisa dapat pahala jika saya bersabar. Pun kebahagiaan bisa kita ciptakan, karena kebahagiaan adalah jika kita bersyukur atas apa yang dimiliki atau atas apa yang diberikan/dititipkan Allah pada kita dan kita bisa memilih untuk tidak bersedih atas apa yang tidak Allah berikan pada kita.

Memang tak saya pungkiri juga, bahwa saya juga sering bersedih karena belum kunjung dikaruniai anak. Lihat medsos teman yang lagi senang-senangnya hamil atau punya baby rasanya gimanaaaa gitu. Lihat betapa lucu dan pintarnya baby-baby mereka. Yaaah daripada timbul rasa iri yang makin menjadi, seringnya sih saya skip aja postingan mereka. Kalau saya mau memuji, sebisa mungkin saya sempatkan memuji Allah dulu, misalnya “Masya Allah, baby nya lucu dan pintar banget”. Karena sependek pengetahuan saya, penyakit ‘ain itu rentan terkena ke baby-baby jika kita memujinya atau takjub melihatnya tanpa mengucap pujian pada Allah yang telah menciptakannya. Jadi ya maklum kalau saya skip postingannya ya, hehe, daripada ternyata saya nyumbang penyakit ‘ain ke baby saudara. Lagipula, yakin deh kalau teman/keluarga kita yang punya baby gak ada niatan untuk sombong atau pamer, karena sudah sewajarnya bahwa anak adalah kebanggaan, permata hati. Pun kalau kita sendiri sudah punya anak nanti, sangat mungkin kita juga akan posting tentang anak kita.

Perspektif yang lain dari seorang yang tidak mudah memiliki anak (saya maksudnya), kalau saudara/teman nanya “kok belum hamil?”, “belum hamil gara-gara ditinggal suami terus ya?” atau semacamnya, sebisa mungkin tanggapi dengan kepala dingin. Tinggal bilang, Alhamdulillah belum dikasih sama Allah, do’akan saja ya. Kalau mereka tanya kenapa, kita tak ada kewajiban menjawab kok. Tak perlu lah kita jelaskan kita punya penyakit ini itu atau lain sebagainya, karena mereka belum tentu bisa membantu atau punya niat membantu, selebihnya mereka mungkin cuma kepo. Kalau mereka kasih saran atau rekomendasi pengobatan misalnya, tinggal bilang terima kasih, dan mungkin memang bisa kita coba ikuti sarannya. Kalau suami yang disalahkan karena LDR atau malah menuduh mungkin suami yang mandul, sebaiknya bela suami kita. Karena ternyata suami juga pasti merasa tersinggung dan sedih kalau disalahkan atas masalah susah punya anak ini (huhu maafkan daku ya kakanda, harusnya aku lebih membelamu).

Nah, jangan juga baper berlebihan, misalnya pada kawan yang sudah lama tak bersua & bertanya, “wah, dirimu gemukan, lagi hamil ya?”. Menurut saya pertanyaan yang wajar ditanyakan teman yang sudah lama tak berkabar & tahu kalau kita sudah menikah. Lain halnya kalau pertanyaan tsb ditanyakan pada yang belum menikah, bisa diamuk massa lalu nabrak tiang listrik kita #eh. Apalagi kalau ditanya keponakan kita yang masih kecil, “kok tante belum punya bayi”, ya gak usah dibawa galau juga, masa’ iya kita mau jelasin panjang lebar ke anak kecil nan polos.

Lanjut, giliran untuk kita-kita sebagai bagian dari sosial, apalagi yang sudah dikaruniai anak atau pun yang mudah punya anak, silakan tanyakan kabar teman/saudara Anda yang sudah menikah dan belum punya anak dengan baik, hati-hati perasaan mereka mungkin sensitif. Kalau mereka pinjam anak anda untuk berfoto dengan maksud “pancingan”, ya bolehlah pinjami sebentar, sekadar untuk menghibur mereka kan dapat pahala juga. Hehe. Tak perlu dijadikan banyolan, “makanya bikin anak sendiri dong”. Gak perlu bercanda ya tentang hal ini, orang juga tahu ada ikhtiarnya, tapi tetap yang menciptakan itu Allah. Silakan posting foto anak anda, namun hati-hati untuk menghindari penyakit ‘ain (sila google untuk tahu lebih lanjut tentang penyakit ‘ain ya).

Saya pribadi lebih senang sama akun IG emak-emak yang memberikan info/edukasi tentang perkembangan anak, MPASI, menyusui, review peralatan bayi, dsb. Lebih bermanfaat, apalagi namanya media sosial ya. Pengen lah kalau nanti baby udah lahir, bikin IG tentang review peralatan bayi macam emak-emak itu. Bermanfaat banget deh, jadi banyak orang yang tertolong untuk memilih barang baby yang benar-benar bermanfaat, karena banyak produk-produk yang mubazir, terlebih harga barang-barang baby memang menguras kantong.

Duh, maksud bersyukur sama Allah lewat tulisan ini, jadi ngalor-ngidul kemana-mana yaaa, maklum udah lama banget gak nulis di mari. Maafkeun ya. Ambil yang baik-baiknya, buang yang buruknya, karena kebaikan dan kebenaran datangnya dari Allah, yang buruk dari saya pribadi (dan mungkin dibantu syaitan juga). Akhir kata, mari kita berdo’a:

Gambar terkait