3

So This is What Marriage is…

Time flies. Dua purnama sudah kami lalui sebagai suami-istri. Ya, saya dan seorang lelaki teman sedari kecil bernama Wisnu Indrajit. Tak hentinya saya bersyukur telah dikaruniai seorang suami sholeh yang menurut Allah SWT terbaik untukku.

Pekan pertama menjadi pasutri kami habiskan dengan honeymoon. Akhirnya pacaran dengan halal! Alhamdulillah terbayar sudah kesabaran kami untuk tidak berpacaran sebelum menikah. Ternyata pacaran setelah menikah itu unyu, lucu, deg-degan, cheesy (yang paling gombal siapa lagi kalau bukan suami saya).

Pekan kedua dan seterusnya, saat sudah masuk ke rutinitas, kami mulai beradaptasi dengan kebiasaan, kesukaan dan ketidaksukaan masing-masing, how to deal with problems, etc. Karena saya masih harus menjalankan penelitian tesis di IPB Dramaga sedangkan suami kerja di Jakarta, jadi lah kami “Pasutri Weekend“, di mana Jum’at malam adalah waktu yang paling dinanti untuk bertemu kembali setelah weekdays menjalani rutinitas masing-masing dengan terpisah jarak.

SAMSUNG CSC

Husband and I, Partner in crime

 

Saya pun masih belajar bagaimana membuang ego, bukan mengesampingkan ego. Benar-benar harus belajar dan berubah menjadi lebih baik, karena saya adalah istri yang jaauuuuuhhhhh banget dari sempurna. Alhamdulillah suami saya orang yang tegas, beliau support saya untuk menjadi lebih baik. Well, sebagai wanita yang dulu independent (ga mau dibilang “jones” ceritanya) tanpa ada lelaki hebat yang rutin memberi kritik yang membangun dan enjoyed life as the way I am, gak dipungkiri sih kalau sebenarnya minder banget karena kayaknya saya kurang di sana-sini, gak punya keunggulan yang bisa dibanggakan. Berasa aku mah apa atuh..hehe. Ya begitulah ego wanita independent, saya harus belajar menerima kritik dan saran orang lain demi menjadi lebih baik dan no excuses.

Belajar, dan terus belajar. Saya masih belajar bagaimana menghargai dan menghormati lelaki yang dulu adalah teman biasa (pernah jadi luar biasa juga sih) yang sekarang menjadi suami saya. Masih in disbelief aja sebenarnya kalau jodoh saya adalah seorang Wisnu Indrajit, seseorang yang gak pernah diduga jadi tersangka yang melamar saya setahun lalu. Karena otak saya masih membayangkan dia seperti seorang teman, awalnya agak aneh untuk mengurus keperluan satu orang istimewa itu, seperti misalnya menyiapkan kemejanya, membuat teh untuknya, dll. Sampai pernah sempat juga lupa punya suami. Hehe.

Ya, menghargai dan menghormati. Menghargai sekecil apa pun kebaikan suami, menghormati setiap keputusan yang dibuatnya, kadang bukan hal yang mudah. Namanya juga istri, yang tidak lain adalah seorang manusia berjenis kelamin wanita (ya iyalah). Suami sempat memberi ide untuk membuat buku list kebaikan suami/istri. Nanti kalo lagi marahan, buka deh buku itu, untuk mengingatkan kita betapa banyak dan berartinya kebaikan suami/istri. Hmm, belum sempat menulis sih, tapi lewat tulisan ini beberapa sudah tersampaikan.

Bagaimana dengan “penghargaan” suami untuk saya? Karena saya orang yang pemalu (iya, anggap aja begitu), saya merasa belum bisa me-reply dengan baik pujian dari suami. Misalnya, waktu itu saya buat omelette pakai rice cooker, saya gak pede dengan rasanya yang menurut saya terlalu asin, tapi suami malah bilang “enggak keasinan kok, aku malah suka” sambil makan dengan lahap. Saya cuma bisa diam, padahal sebenarnya hati melompat girang. Mungkin karena grogi ya, soalnya jarang sih dipuji soal masakan, secara keluarga saya kalau saya masakin ya dimakan gitu aja. Duh, padahal waktu dia muji aku pengennya dengan manis balas, “makasi sayang, nanti aku masakin lagi yang lebih enak.” (Auuuu, cheesy to the max!). Ngomong-ngomong tentang pujian, saya adalah orang yang (masih) gengsi memuji suami di depan orangnya. Gara-gara itu, suami suka nagih minta dipuji kalau dia ganteng atau yang lainnya. Hehehe kasian amat ya suamiku. Hmm saya harus belajar memuji nih.

Favorit saya, kalau suami lagi perhatian baik dengan atau tanpa diketahui saya. Seperti waktu itu, saya terkantuk-kantuk di mobil dalam perjalanan dari Batu ke kota Malang. Saya yang masih setengah sadar, merasa suami pindah posisi mendekati saya, ternyata maksudnya supaya kepala saya bisa bersandar di bahunya. Aih, so sweet nyaaa. Sebenarnya dia memang sweet, tapi sweet nya sering tertutupi sama kejahilan dan “kesombongan”nya yang antara ngangenin dan nyebelin. LOL.

Paling senang saat kami saling mengingatkan dalam kebaikan dan mengingat Allah SWT. Shalat berjama’ah sama suami adalah moment yang paling aku tunggu-tunggu dan pasti paling ngangenin. Berbagi kebahagiaan dengan yang membutuhkan, ikut kajian Islam bareng, dsb adalah hal-hal yang paling menyejukkan. Tapi akhir-akhir ini frekuensinya menurun, jadi masih harus kami evaluasi lagi untuk kegiatan ibadah ini nih. Ganbarimasu!

Anyway and anyhow, masih banyak yang harus kami wujudkan. Mimpi-mimpi, visi ke depan, keluarga yang diberkahi Allah SWT dan sakinah mawaddah warahmah sampai ke Jannah-Nya. Dan, masih banyak suprises entah itu the good ones or the bad ones yang harus kami lalui. Seperti kata suami saya, semoga semua tentang kita ini menjadi penambah rasa syukur terhadap Allah SWT. Aamiin.

*Tulisan ini untukmu, yang diberitakan akan menjalankan amanah ke Vietnam selama 2 bulan. P.S.: I love you.

 

 

Advertisements
0

The Mudik 2015

Mudik (v): literally means “going home”, or “returning to one’s place of origin”, Muslims return to their kin, their family, their past and their hometown.

Most people in Indonesia, especially in Jakarta, will do “mudik”. Rich and poor, men and women, young and old, politicians and thieves, bureaucrats and commoners; they will flood the streets, airports, train stations and seaports usually a week before the post-Ramadhan celebration begins so that they can be reunited with their families during the festivity.

Couldn’t bear the euphoria of that “mudik” thing, I decided to also did “mudik” suddenly, joining my uncle’s family ride by car to Madiun, a small town in East Java around 700 km from Jakarta. My hometown of origin is actually in Solo, another town in Central Java, but I went to Madiun as my grandma is living there with my Dad’s sister. That time, I desperately needed to pay a visit to Madiun and gather with families from my Dad’s side since I hadn’t been done “mudik” for 4-5 years of Ramadhan time in a row and another reason that this might be the last Ramadhan of me being a bachelor, in shaa Allah. So then I travelled to Madiun for 24 hours from the normal travelling time of 16 hours because of heavy traffic. Ok then, the story of my “mudik” will be continued using Bahasa Indonesia afterwards.

The departure

Kami berangkat dari Bojongkulur (Bogor) sekitar pukul 5.15 WIB tanggal 12 Juli 2015. Kami melewati tol baru, Cipali namanya. Antrian tiap gerbang tol untuk melakukan pembayaran sangat padat, tapi setelah keluar dari gerbang, kondisi cukup ramai lancar. Seharusnya sampai di Pengadegan, kami keluar tol. Tapi karena Om Catur tidur dan yang nyetir anaknya, Adit, kami jadi “nyasar” lanjut lewat tol yang belum jadi. Jalanannya berpasir, kami jadi berasa off road dengan kecepatan maks 40 km/jam dengan jarak pandang sekitar 5-10 meter. Kami sempat istirahat pukul 20.00-24.00 WIB di rumah Om Maman di Pekalongan lalu melanjutkan perjalanan demi mengejar sunrise di Tawangmangu dan berkunjung ke Danau Sarangan saat sepi. Aku dan Luna, anak Om Catur sempat berkuda di Sarangan. Asyik juga, ada monyet-monyet juga di sepanjang jalur berkuda. Aku selalu suka dengan jalan-jalan ke pegunungan daripada ke pantai, mungkin karena adem kali ya. Suka banget lihat bunga Edelweiss, bunga terompet, dan wisata petik buah. Sayangnya karena kepagian, wisata petik Strawberry nya belum buka. Lebih oke lah daripada Puncak yang padat, at least lebih lengang. Hanya 1 jam berikutnya kami sudah sampai Madiun sekitar pukul 8.00 WIB.

Taman Wisata Sarangan, Tawangmangu

Taman Wisata Sarangan, Tawangmangu

Danau Sarangan

Danau Sarangan

The first days in Madiun

Hari-hari pertama di Madiun, I almost do nothing. Hmm, maksudnya almost going nowhere sih. Pengen ke Jogja naik kereta, jadwal ga cocok. Sepupu yang bisa jadi tour guide baru libur sehari sebelum lebaran. Jadi palingan masak dan nyuci aja di rumah. Hehe. Masakan rumah di Madiun jadi massive dan yahud banget: Sop Manten, Daging Lapis, sayur asem daging, ayam jago goreng, nasi liwet, nasi pecel, dsb. Tapi masakan andalanku yang ditunggu-tunggu keluarga saat berbuka puasa hanyalah sambel kecap. Gak ada aku berarti ga ada sambel kecap dan jadi gak nikmat makan tempe mendoan dan tahu bakso. Padahal bikinnya paling gampang, tapi emang dasar pada males bikin aja. Hehe. The first days yang sekitar 4 hari ini palingan kalau pun pergi cuma ke Gramedia, nemenin sepupu belanja, nyekar ke makam kakek, dan buka puasa bareng di restoran Itik Emas di hari terakhir puasa. Oia, Alhamdulillah aku gak melewatkan merasakan tarawih di masjid dekat rumah Madiun di malam terakhir tarawih karena biasanya aku cuma berjama’ah saja di rumah. Nyesel banget kenapa gak tarawih di masjid terus aja. Sholat di masjid Madiun aturannya agak berbeda dengan masjid di dekat rumah Jakarta, yaitu 8 raka’at dengan salam tiap 2 raka’at dan tausyiah dilakukan di antara shalat tarawih dan shalat witir. Ustadznya lucu dan tausyiahnya pun pakai Bahasa Jawa sehari-hari.

Bukber di restoran Itik Emas, Madiun

Bukber di restoran Itik Emas, Madiun

The Lebaran Day 1

Lebaran hari pertama aku habiskan untuk mengunjungi  saudara-saudara jauh dari pihak Ayah yang tinggal di Doplang. Jalanan berliku banget, tapi Alhamdulillah sudah much better dibandingkan jaman dulu dengan banyak jalanan yang rusak. Sepanjang jalan aku dan sepupu-sepupu kerjaannya nyanyi terus, mulai dari lagu Tulus, Westlife, Maher Zein, Taylor Swift, sampai Sheila on 7. Berasa pramuka deh pokoknya. Maklum darah muda. Aishhh. Empat jam kami tempuh hingga sampai Madiun. Sesampainya di Madiun, kami mengunjungi rumah kakak perempuan dari nenekku dan sepupu ayah, lalu ke rumah saudara-saudara dari nenek dan kakekku. Kami juga nyekar ke makam buyutku. Saatnya kembali Madiun di sore hari, dan sampai ke Madiun sekitar pukul 20.30 WIB dengan perut keroncongan. Alhamdulillah ditraktir Om Catur makan malam di restoran Lombok Idjo, dengan Iga bakar yang mantap dengan harga terjangkau, cukup 30k saja per porsi (^.^)

Salam Lebaran dari Madiun! depan ki-ka: Adit, Ilham, Dian, Luna, Tata, Avi. blkg ki-ka: Aku, Tante Tia, Om Catur Dimas, Mbah Ti, Bulik Titrin, Bulik Dwi.

Salam Lebaran dari Madiun!
depan ki-ka: Adit, Ilham, Dian, Luna, Tata, Avi.
blkg ki-ka: Aku, Tante Tia, Om Catur Dimas, Mbah Ti, Bulik Titrin, Bulik Dwi.

Makan malam di resto Lombok Idjo, Madiun

Makan malam di resto Lombok Idjo, Madiun

The Lebaran Day 2

Hari kedua lebaran lebih seru lagi, kali ini rally ke Ngawi dan Solo. Aku ke Ngawi hanya menggunakan motor dengan sepupuku, Dian, selama 15 menit dan melewati jembatan bambu yang cukup rapuh. Sensasi menyeberangnya mantap lah pokoknya. Di Ngawi, kami bertemu dengan Nenek dari sepupu dan mantan asisten rumah tangga yang mengasuhku dari usiaku 1 atau 2 tahun sampai kelas 3 SD, namanya Mbak Bibit. Nama anak pertama Mbak Bibit yang sekarang naik kelas 2 SMA juga diberi nama perpaduan namaku dan Ninit, jadinya Ninin. Setelah sarapan Soto daging buatan mbak Bibit yang sedap, aku melanjutkan perjalanan ke Solo dengan mobil Bulik Titrin bersama suaminya, Om Maman, dan anak-anaknya. Perjalanan ke Solo yang biasanya 2-3 jam dari Ngawi/Madiun, kami tempuh dalam 5 jam karena macet di Sragen. Sesampainya di Solo, kami langsung ke rumah produksi yang baru dibangun oleh kakak dari Om Maman. Ternyata sekalian syukuran rumah produksi baru, sekalian silaturahmi keluarga besar dari Om Maman di sana. Setelah dari sana, kami mengantar Avi, anak pertama Bulik Titrin ke Stasiun Purwosari Solo untuk pulang ke Jogja. Lanjut lagi kami nyekar ke makam adik bungsuku, kembaran Ary yang meninggal dunia sehari setelah dilahirkan, yaitu Adi Putra Ramadhan. Aku sudah lamaaa sekali gak nyekar, rasanya kangen sekali dengan Adi walaupun aku sama sekali tidak pernah melihatnya. Katanya Adi itu lebih mirip denganku, sedangkan Ary lebih mirip Ninit.

Malam harinya, aku diajak memutari Solo dengan mobil. Kami melewati Istana Mangkunegaran, pusat kuliner Solo, Jl. Slamet Riyadi (Jalanan metropolitannya Solo, kayak Sudirmannya Jakarta kali ya, hehe), sampai restoran es krim Bima yang sudah ada dari jaman aku cilik dan Mama pasti ngajak aku ke restoran Bima untuk makan es krim tiap mudik ke Solo dulu. Nostalgia deh pokoknya. Sekarang Solo bertaburan café gaul di mana-mana, tanpa menghilangkan khasnya Solo, yaitu angkringan nasi kucing dan susu sapi segar. Sebelum pulang ke Madiun, kami makan malam di dekat rumah Mojosongo, yaitu di Omah Wedang. Makanannya nasi kucing dan lauk segala rupa, mulai dari sate bakso, ceker, mie sosis, dsb. Makanannya serba 2ribu. Untuk minumannya, susu jahe tentunya. Kami bersembilan makan dengan total 149k saja, saudara-saudara! Namanya juga Solo…murah meriah! Sepanjang perjalanan, aku dan Tata (anak perempuan kedua Bulik Titrin) tidak henti-hentinya bernostalgia, mensyukuri betapa beruntungnya kami punya masa kecil yang indah di Solo dan menyayangkan sepupu terakhir kami, si Luna, tak punya memori yang sama dengan kami tentang Solo karena Mbah Putri sudah pindah ke Madiun saat dia lahir. So, deep inside our hearts, Solo will always be our hometown.

Makan Malam di Omah Wedang, Mojosongo, Solo

Makan Malam di Omah Wedang, Mojosongo, Solo

The “Arus Balik”

Keesokan harinya, aku pulang sendirian ke Jakarta dengan bus Rosalia Indah pukul 11.30 WIB, terlambat dari pukul 10.00 WIB yang dijadwalkan. Aku menikmati perjalanan 20 jam itu, terutama saat melewati Solo (again, my heart really into Solo) dan tol Bawen-Manyar Semarang di malam hari yang cantik dengan pemandangan lampu-lampu perumahan di bukit-bukit sekelilingnya. Menempuh jalan darat dengan mobil/bus memang paling cocok untuk menikmati pemandangan dan rupa kota-kota yang dilewati. That’s the end of my mudik journey, mudik yang berkesan setelah 4-5 tahun tidak mudik. Semoga Ramadhan-Ramadhan berikutnya aku bisa mudik lagi seperti ini (^.^). Aamiin Ya Rabb..

0

Momiji, Trekking to Takao-san

Edisi kangen “Nihon no iro-irona koto” kali ini saya dedikasikan untuk keluarga PPI Tokodai, karena tulisan ini mengulas acara jalan-jalan saya yang pertama kalinya dengan kalian!

Jalan-jalan kali ini dieksekusi demi memenuhi “ritual” momiji alias melihat (dan menikmati pemandangan) daun-daun berwarna merah/kuning saat musim gugur, secara berjama’ah alias bareng-bareng. Agenda wajib tahunan ini gak lain gak bukan adalah Trekking ke Takao-san. Takao-san yang dimaksud adalah gunung Takao. Saya juga baru tahu saat itu kalau menyebut nama gunung, orang Jepang lebih umum menggunakan imbuhan akhiran -san daripada -yama (yang artinya juga gunung). Jadi kalau bilang Gunung Fuji, pakainya Fuji-san, bukan Fuji-yama.

Takao-san terletak di daerah Hachioji, Tokyo. Jadi masih dekat dengan tempat tinggal kami di Tokyo coret (baca: Yokohama). Perjalanan kali ini dimeriahkan (dirusuhkan lebih tepatnya) oleh sebagian besar anak baru macam saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jepang. Saya lupa tanggal tepatnya kami hangout ke sana, tapi yang pasti pertengahan November 2011.

Tangga Hierarki Keluarga PPI Tokodai

Tangga Hierarki Keluarga PPI Tokodai

Di dekat stasiun tujuan kami, stasiun Takaosanguchi, ternyata ada Trick Art Museum! Wah, mata saya jadi berbinar-binar dan mulut setengah melongo ngeliatin Trick Art Museum. Pengen banget ke sana, tapi sayang seribu sayang, si Yudha tiba-tiba dari belakang nyeletuk, “Ta, pengen ke sana ya? Yah, hari ini kita trekking doang, ga ke Museum itu.” Terima kasih Yudha, engkau sukses meluluhlantakkan lamunan saya, membawaku kembali ke alam nyata.

Trekking di Takao-san cukup ringan, palingan jalan menanjak dan tangga-tangga, di sekelilingnya pemandangan pohon-pohon yang daunnya sudah merah. Asik banget, gak capek, karena pemandangannya luar biasa indah meski diguyur hujan. Subhanallah. Di bawah hujan itu, akhirnya kamera-kamera juga pada mandi. Para fotografer Tokodai pasang wajah-wajah worry memandang kameranya sedangkan model-modelnya malah ribut minta difoto dan diarahkan gayanya. Cici Lyta pun sudah meneriakkan komando semangat, terutama pada gerombolan siberat: Febry, Tirto, & Dani. Bunyi komandonya begini, “Aduh, ayo dong, kalian tuh harus semangat mendakinya. Liat tuh kakek-kakek dan nenek-nenek di sana, udah pada duluan kan mereka. Mereka aja kuat jalannya! Di Jepang tuh kalian harus banyak jalan!”

Sepanjang tangga kenangan~~

Sepanjang tangga kenangan~~

Di tengah perjalanan kami ke Barat (eh ke Puncak maksudnya, emang kite-kite rombongan Sun Go Kong?), kami menemukan toko kecil yang menjual Dango! Iya, kue dango yang “Hana Yori Dango” itu lho. Waktu itu kalau ga salah harganya 1 tusuk 500 yen (sekitar Rp55.000). Makan dango nya pakai gula merah cair dan teksturnya lebih kenyal daripada cimol. Jujur saya kurang suka makan dango, capek ngunyahnya, cepat bikin eneg karena manis. Setelah pertama kali mencicipi Dango di Takao-san ini, saya gak pernah beli Dango lagi (T.T)

kue Dango berjejer

kue Dango berjejer

icip-icip Dango!

icip-icip Dango!

Berikutnya setelah sampai di Puncak, kami menemukan kuil-kuil. Suasana cukup sepi karena cuaca yang hujan. Tapi berbagai ritual di sana tetap lanjut, seperti minum (atau malah melakukan sesuatu yang mirip wudhu) dengan air suci, dsb. Sebagian besar dari kami yang muslim cuma melihat-lihat saja, gak ikut ritual-ritual. Setelah itu, kami makan siang dengan bento masing-masing dan foto-foto sampai puas!

Suasana Kuil di Takao-san: Sunyi Senyap...

Suasana Kuil di Takao-san: Sunyi Senyap…

Semacam Poster Dorama Jepang, judulnya "The Wind that Autumn Blows". Haha

Semacam Poster Dorama Jepang, judulnya “The Wind that Autumn Blows”. Haha

Kalo yang ini: Foto Kalender 2011 SM

Kalo yang ini: Foto Kalender 2011 SM

Ba’da Ashar sekitar jam 16.00 JST kami akhirnya pulang, dengan setengah basah sampai ada juga yang kuyup (ini sih cowok-cowok yang gengsi pakai payung) dan moga-moga dengan kamera-kamera DSLR yang tidak masuk angin. Kereta menuju kampung Yokohama hampir kosong melompong waktu kami masuki. Lantas kami pun bernorak ria lanjut sesi foto rame-rame di kereta!

Sepinya Kereta dari Takao-san, dijarah anak Tokodai!

Sepinya Kereta dari Takao-san, dijarah anak Tokodai!

Special thanks to Photographer: Mas Johan, Yudha, Cici Lyta.

Model-model: Saya (Dita/Tata), Natalia, Bibay, Dani, Stephanie, Febry, Tirto, Irvan, Bentang, Nur Ahmadi, Shadad, Mbak Rahma (dan temannya, saya lupa namanya), Mas Gerald, Pakde Kunta, Mas Bayu.

Takao-san trekking Participant, Otsukare! Tanoshikatta!

Takao-san trekking Participant, Otsukare! Tanoshikatta!

0

New Year’s Holiday 2013/2014

Here I come again! Another year has passed, another mysterious occasion awaits. Yup, no one knows what kind of events we will face in the future. I’ll begin my lines with the story of my new year’s holidays. This isn’t gonna take your time, I promise *finger-cross. It’s my first English writing in 2014 since the beginning of last year I supposed, making myself pretty sure my English is getting worse, so please bear with me.

My holiday lasted from December 21st 2013 until January 5th 2014 (what? a year? *you wish!). I spent my first week of holidays by having a continuous trip to Slawi – Semarang – Madiun – Semarang again from December 21 (Sunday). Spending a night in Slawi where my uncle’s new house had been built, I enjoyed the view in the house – especially the backyard which has a small pond where 7 or 8 Koi fishes swim lively, a swing, and a gazebo. The very next day, we went to Semarang after mom and grandpa had their eyes check up by my uncle who is an ophthalmologist (eye specialist doctor). We visited my dad’s sister’s (aunt) house in Pekalongan in the mid of our way to Semarang. I’ve got to chat with my cousins there and we had “Ayam Pekalongan” (Pekalongan’s grilled chicken) for our late lunch –> recommended cuisine in Pekalongan!

Image

my uncle’s house backyard in Slawi

On Tuesday, we only took a rest and most of my family members – including me – had massage. On Wednesday, we traveled to Kampoeng Kopi Banaran (a trip site in a small area called Bawen, around 30 km from Semarang) to have lunch and took a short trip to the coffee field. My mom, my brother, and I stayed in that trip site until 7.30 pm to get picked up by a mini bus to Madiun. I didn’t enjoy the night trip to Madiun since I couldn’t see the scenery along the way and we had bumpy roads so we couldn’t have a nice sleep either. The mini bus successfully made us arrive in Madiun at 1.30 am, which also made my grandma finally slept after her long waiting us being there safe and sound. The next day, we visited my grandpa’s (dad’s father) tomb who left us in June 2012 and I got a fever, perhaps due to the non-stop trip. On Friday morning, we took 6 hours trip back to Semarang by bus with a transit in Solo. Although we only had lunch in Solo, I was happy because I finally visited the town which we occasionally visit back then a long time ago when my grandma still lived there. Then that’s it, I went back to Jakarta by car with my sister, my uncle, and a cousin which took us 12-13 hours to home.

For my second week of holidays, I mostly spent it at home. I’m glad to see my old friends from junior high during this time, seeing everyone, step by step is pursuing their dream. All praises to God, Alhamdulillah, I also managed to purchase a new laptop, replacing my old laptop which has accompanied me for the last 5 years. I was sad noticing it’s about my old laptop to retire, so I feel like to say “otsukaresamadeshita” or literally “you have worked hard / thanks to your hard work” to my old laptop. Oh my old laptop, thank you for your hard work until your last time helping me out to write narrative report for my students, and you also had been by my side during my adventure to Japan until my completion of bachelor studies. Eeeewww, I have no idea that I could be this romantic to a laptop *sigh. Back to new laptop, I would like to say “welcome to my world, let’s enjoy our journey together!”. Haha…

Ok, that’s is for my first post in 2014. I’m looking forward to seeing wonderful events in my life this year!!

0

Finally, met my family and Besties at Odaiba!

Heee??? How come you met family and besties at Odaiba?! –> with exaggerating expression of Japanese. Whoops, no offense, just kidding.
Yup, I finally met my “dream” family : Angelina Jolie (mom) and Brad Pitt (dad). Also with besties : Jackie Chan, Lady Gaga, Rihanna, Nicole Kidman, Beyonce, Beckham, and Spiderman!

Unfortunately they did not move. Heeee??? Of course, because they were just statues made of wax! Haha. Gotcha! I’m the saddest girl who just can take picture with their statue, aren’t I?

well, with “investment” of 800 yen, I could enter Madame Tussauds in Odaiba to take photos with the famous hollywood artist and several Japanese artist (whom I don’t know their name, haha). Madame Tussauds is being opened for public in Aqua City Odaiba until January 2013. It was just a trial to get to know Japanese people enthusiasm.

Hmm, about the statue, I can say many of them were just too fake, especially Rihanna’s statue. Hehe. The native people here (you know what I mean),  were too enthusiastic! Not just take the picture of statues, but also the statues’ properties (gown, earrings, other accessories)! I didn’t get them, really..

We also took print out pictures with Michael Jackson’s statue and Spiderman’s statue and paid 500 yen each. It was nice!